Produksi GGBFS Akan Meningkat Tahun Ini

Industri baja dalam negeri pada tahun ini diproyeksi dapat memproduksi hingga 940.000 ton ground granulated blast furnace slag (GGBFS) segar, meningkat dari capaian tahun lalu sekitar 932.000 ton.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 19 Mei 2019  |  19:00 WIB
Produksi GGBFS Akan Meningkat Tahun Ini
Slag baja - Ilustrasi/marsbintangtimor.itrademarket.com

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) memproyeksi industri baja dalam negeri dapat memproduksi hingga 940.000 ton ground granulated blast furnace slag (GGBFS) segar pada tahun ini. Pada tahun lalu terdapat sekitar 932.000 ton GGBFS yang terbentuk dari produksi baja domestik.

Secara komposisi, asosiasi memperkirakan PT Krakatau Semen Indonesia akan menyerap 40,42% atau 380.000 ton. Sementara itu, selebihnya akan diserap oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (240.000 ton), PT Semen Jakarta (240.000 ton), dan PT Korea Resources Recycling and Green Indonesia (100.000 ton). 

Asosiasi tampak optimis dapat menyerap seluruh GGBF segar tahun ini. Pada akhir tahun lalu, industri pengolahan menyerap 79,82% dari total GGBFS segar atau 744.000 ton.

Pada kuartal I/2019. Industri lokal telah menyerap 89,38% dari total GBFS yang diproduksi industri baja nasional. Dengan kata lain, industri pengolahan di dalam negeri telah menyerap 219.000 ton GGBFS dari 245.000 ton GGBFS hasil pemurnian baja pada Januari—Maret 2019.

Ketua Umum IISIA Silmy Karim menguraikan, industri baja nasional telah mengekspor 30.000 ton GGBFS yang kini sedang dibongkar muat di pelabuhan Jurong, Bekasi. Tahun ini akan ada sekitar 180.000 ton GGBFS yang akan diekspor ke Uni Emirat Arab dan Banglades.

Silmy menyampaikan hingga akhir tahun lalu industri semen telah menyerap slag baja sebagai bahan baku pembuatan semen sejumlah 94.491 ton. Sementara itu, industri semen secara maksimum dapat menyerap 690.000 ton slag baja. 

Selain menjadi campuran semen, slag baja juga dapat dijadikan campuran bahan baku pembuatan landasan bandar udara, tempat bersandar kapal di pelabuhan, dan aspal.

Sebelumnya, Silmy menuturkan penambahan slag dalam pembuatan aspal cocok digunakan untuk jalan tol. Hal tersebut, lanjutnya, mengingat jalan tol kerap dilalui kendaraan niaga yang membuat kondisi jalan tol kerap melengkung. 

Dengan menambahkan slag baja, menurutnya, hal tersebut tidak akan terjadi karena kualitas jalan akn semakin kuat daripada penggunaan aspal konvensional. Silmy menuturkan penggunaan slag untuk jalan telah diimplementasikan di Malaysia dan Singapura.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri baja, industri semen, slag baja

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top