API : Kemampuan Beli PLN Jadi Kendala Pengembangan Pembangkit Geotermal

Asosiasi Panasbumi Indonesia menilai harga panas bumi yang masih di atas kemampuan beli PT PLN (Persero) masih menjadi kendala utama realiasi proyek pembangkitan geotermal.
Ni Putu Eka Wiratmini | 15 Mei 2019 16:16 WIB
Pekerja beraktivitas di area instalasi sumur Geothermal atau panas bumi milik PT Geo Dipa Energi kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (10/10). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Panasbumi Indonesia menilai harga panas bumi yang masih di atas kemampuan beli PT PLN (Persero) masih menjadi kendala utama realiasi proyek pembangkitan geotermal.

Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) Prijandaru Effendi mengakui memang selain persoalan harga, masalah penerimaan masyarakat dengan pembangkitan panas bumi juga menjadi kendala lain. Hanya saja, kendala terbesar memang masih pada persoalan kemampuan beli PLN.

Walaupun demikian, dia mengakui pemerintah telah melakukan sejumlah cara untuk menghadapi persoalan tersebut. Seperti misalnya dengan program pengeboran eksplorasi oleh pemerintah atau government drilling. "Saat ini sudah banyak [insentif dari pemerintah]," katanya, Selasa (14/5/2019) malam.

Menurutnya, pihak ketiga juga cukup tertarik memberikan bantuan pembiayaan pada proyek pembangkit panas bumi selama kepastian pengembalian tersebut dapat dilakukan. Hanya saja, belum ada pihak ketiga yang ingin membantu membiayai kegiatan eksplorasi. Pembiayaan baru akan masuk setelah eksplorasi selesai.

"Yang bank lihat saat ini itu proses pengembalian uangnya, jadi semahal apapun kalau keekonomiannya masuk tidak ada masalah," katanya.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ali Mundakir mengakui pembiayaan memang menjadi masalah semua pengembangan. Apalagi, dalam mengembangkan pembangkit panas bumi, masalah infrastruktur menjadi urusan pengembang seperti membuka lahan hingga membangun jembatan karena lokasi pembangkit yang harus berada langsung di wilayah kerja.

Menurutnya, biaya yang dikeluarkan pengembang saat melakukan pengeboran hingga membangun pembangkit pun cukup tinggi. Setidaknya, untuk melakukan pengeboran [drilling] pada satu sumur eksplorasi membutuhkan dana US$6 hingga US$10 juta.

"Makanya kita sambut gembira inisiatif pemerintah untuk melakukan pengeboran eksplorasi sehingga begitu pemerintah melakukan prospek hasilnya bagus baru ditawarkan investor sehingga risiko investor jadi, tapi kepastiannya sudah lebih," katanya.

Adapun Indonesia merupakan negara dengan potensi besar untuk mengembangkan sumber daya energi panas bumi. Saat ini pemanfaatan kapasitas total terpasang energi panas bumi di Indonesia adalah sebesar 1.948,5 Mega Watt (MW). Indonesia juga menduduki peringkat kedua setelah Amerika Serikat sebagai produsen energi panas bumi terbesar.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, geotermal

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup