Menyongsong Tahun Pertumbuhan Ekonomi Asia

2020 akan menjadi tahun spektakuler bagi Asia. Negara-negara di benua ini diproyeksikan mendominasi daftar ekonomi eksklusif atau "Klub 7 persen", dengan mempertahankan laju pertumbuhan pada kisaran 7 persen.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  07:49 WIB
Menyongsong Tahun Pertumbuhan Ekonomi Asia
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia 2018-2018 versi IMF. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA - 2020 akan menjadi tahun spektakuler bagi Asia. Negara-negara di benua ini diproyeksikan mendominasi daftar ekonomi eksklusif atau "Klub 7 persen", dengan mempertahankan laju pertumbuhan pada kisaran 7 persen.

Catatan penelitian Kepala Riset Tematik Standard Chartered Madhur Ja dan Kepala Ekonom Global David Mann menuliskan, sejumlah negara seperti India, Bangladesh, Vietnam, Myanmar, dan Filipina dipastikan akan memenuhi tolok ukur tersebut.

Ethiopia dan Pantai Gading, yang terletak di benua Afrika, juga cenderung mencapai laju pertumbuhan 7 persen, yang biasanya berarti penggandaan produk domestik bruto setiap 10 tahun.

"Peningkatan tersebut akan menjadi keuntungan bagi pendapatan per kapita. Contohnya, PDB per kapita Vietnam diperkirakan melonjak menjadi US$10.400 pada tahun 2030 dari sekitar US$2.500 tahun lalu," tulis laporan tersebut seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (12/5/2019).

Menurut Standard Chartered, negara Asia Selatan diperkirakan akan mencetak PDB yang menonjol, di mana jika digabungkan seluruh negara dikawasan tersebut mewakili seperlima dari jumlah populasi dunia sampai dengan 2030.

Dividen demografis akan menjadi keuntungan bagi India, sementara investasi Bangladesh di bidang kesehatan dan pendidikan akan meningkatkan produktivitas.

Dominasi negara Asia pada daftar ekonomi eksklusif menciptakan perubahan dari laporan pada 2010, saat bank asal Inggris tersebut pertama kali menyatakan bahwa ekonomi di kawasan ini akan tumbuh pada kisaran 7 persen.

Saat itu, daftar ekonomi eksklusif yang disusun oleh Standard Chartered terdiri dari 10 anggota yang terbagi rata antara Asia dan Afrika yakni China, India, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Nigeria, Ethiopia, Tanzania, Uganda, dan Mozambik.

China yang absen dari daftar ini, setelah sebelumnya bertahan selama empat dekade, mencerminkan bahwa dua faktor yakni perlambatan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita yang bergerak cukup cepat lebih sulit untuk dipertahankan.

Standard Chartered memperkirakan ekonomi nomor dua dunia itu akan mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi 5,5 persen pada kisaran 2020.

Pertumbuhan ekonomi di negara-negara Afrika Sub-Sahara juga telah meredup, situasi yang dianggap oleh para analis sebagai memudarnya momentum reformasi, meskipun ada penurunan harga komoditas.

Jha dan Mann menuturkan, meskipun pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat bukanlah solusi yang sempurna, dengan konsekuensi ketidaksetaraan pendapatan, kejahatan, polusi, di sisi lain peningkatan ekonomi cenderung datang dengan banyak efek positif.

"Pertumbuhan yang lebih cepat tidak hanya membantu mengangkat orang lebih cepat keluar dari kemiskinan absolut, tetapi juga biasanya disertai dengan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, serta jangkauan yang lebih luas barang dan jasa," kata mereka dalam laporan tersebut.

Dalam laporan itu juga tertulis, pendapatan yang lebih tinggi yang dihasilkan dari pertumbuhan yang lebih cepat juga biasanya mengurangi ketidakstabilan sosial politik dan membuatnya lebih mudah untuk memperkenalkan reformasi struktural sehingga mampu menciptakan siklus yang baik.

Selain itu, negara anggota Klub 7 persen cenderung memiliki tingkat cadangan dana dan investasi setidaknya 20 persen-25 persen dari PDB.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
EKONOMI ASIA

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top