LAPORAN DARI SINGAPURA: Perang Dagang Kikis Optimisme Pelaku Pasar

President & CEO Maybank Group Datuk Abdul Farid Alias bahkan menyinggung ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor Cina dari 10 persen menjadi 25 persen telah merusak pasar sepanjang pekan ini.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  16:54 WIB
LAPORAN DARI SINGAPURA: Perang Dagang Kikis Optimisme Pelaku Pasar
Seorang investor tengah berjalan dengan membawa dokumen IPO Uber di Manhattan, New York. AS (30/4/2019). - Reuters/Jeenah Moon

Bisnis.com, SINGAPURA – Tantangan untuk melakukan pembangunan berkelanjutan tak hanya perlu perancanaan jangka panjang, tetapi juga membutuhkan pembiayaan yang cukup untuk memastikan target terealisasi.

Namun demikian, upaya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan tak mudah. Apalagi saat ini ketidakpastian meluas, perang dagang yang berkecamuk antara China dan Amerika Serikat (AS) semakin panas dan telah menjadi penampar ekonomi dunia.

President & CEO Maybank Group Datuk Abdul Farid Alias bahkan menyinggung ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor Cina dari 10 persen menjadi 25 persen telah merusak pasar sepanjang pekan ini.

“Konflik secara keseluruhan telah menimbulkan keraguan serius tentang masa depan konektivitas ekonomi global, dengan volume perdagangan dunia jatuh pada tingkat tercepat sejak kedalaman krisis keuangan,” ungkapnya dalam Maybank Invest Asia 2019 di Singapura, Kamis (8/5/2019).

Dengan semakin tidak menentunya pasar global, Farid memperkirakan hal ini bisa memicu aksi regionalisasi. Di Asia, kekhawatiran ini terbukti dengan meningkatnya pangsa pasar perdagangan Intra-Asia menjadi 61 persen pada 2018 dari 57,3 persen pada 2016. Investasi asing intra-regional juga menunjukan kenaikan dari 48 persen pada 2015 menjadi 50,2 persen pada 2017.

Asia, khususnya Asean menurutnya memiliki potensi yang cukup besar. Ketidakpastian tersebut menurutnya juga akan mendatangkan peluang baru bagi perekonomian di kawasan Asean.

“Ada tanda-tanda transisi dari globalisasi ke regionalisasi cepat berlangsung. Ekonomi regional diproyeksikan tumbuh lebih besar dari Amerika Utara dan Eropa jika digabungkan pada 2030," ungkapnya.

Sementara itu, President of Supply Chain Management Outsource (SCMO) Nicolas de Loisy mengatakan, dalam perang dagang yang sedang terjadi saat ini sebenarnya tidak ada yang diuntungkan.

Seluruh negara yang bertikai sama-sama menderita. Namun demikian, di tengah ketidakpastian yang menyeruak, Asia Tenggara bisa menjadi pihak yang diuntungkan dan bisa jadi mendapatkan peluang dari perang antara dua negara adidaya tersebut.

"Semua menderita baik China maupun AS, tetapi barangkali akan ada yang menerima manfaat dan Asean mungkin yang berpotensi menerimanya," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top