97 Pembangkit Listrik Baru Siap Beroperasi pada April-Desember

Sebanyak 97 pembangkit diestimasikan akan beroperasi komersial pada April 2019 hingga Desember 2019 dengan kapasitas mencapai 3.376 MW.
Ni Putu Eka Wiratmini | 09 Mei 2019 16:21 WIB
Ilustrasi - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 97 pembangkit diestimasikan akan beroperasi komersial pada April 2019 hingga Desember 2019 dengan kapasitas mencapai 3.376 MW.

Estimasi tersebut akan menambah realisasi megaproyek 35.000 MW, yang dari 2015 hingga kuartal I/2019 telah ada 3.467,1 MW pembangkit sudah memasuki tahap commercial operating date (COD) ataupun memiliki sertifikat laik operasi (SLO). Secara khusus, pada kuartal I/2019 terdapat 458 MW proyek pembangkitan tambahan atau baru mencapai 11,3% dari target pembangkitan 2019.

Adapun pembangkitan yang diestimasikan akan beroperasi pada 2019 tersebut tersebar di beberapa daerah seperti Aceh, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Jenis pembangkitan yang diestimasikan beroperasi tersebut menggunakan tenaga air sebesar 190 MW, biommas 24 MW, diesel 5 MW, gas maupun mesin gas 1.422 MW, gas uap 718 MW, mikrohidro 130,5 MW, panas bumi 85 MW, surya 2 MW, dan uap atau batu bara 800 MW.

Executive Vice President Monitoring Proyek PT PLN (Persero) Anang Yahmadi mengatakan pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) salah satu tujuannya untuk mengurangi sewa pembangkitan. Adapun sejak 2014, tren penyewaan pembangkitan terus mengalami penurunan. Selama 2018, sebanyak 2.491 MW listrik dihasilkan dari pembangkit sewa atau menurun 17% dibanding tahun lalu.

Walaupun diakuinya, biaya pembangkit tenaga gas 4 kali lebih besar dibanding batu bara. Hal tersebut menjadikan biaya pembangkit gas mencapai 30% dari total biaya PLN walaupun jumlahnya tidak sebanyak pembangkit batu bara.

"Yang bisa gampang buat hidup kan tenaga mesin gas atau diesel," katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Sementara, jika mengembangkan pembangkit energi bersih, menurutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTM) menjadi pembangkit yang potensinya cukup besar di Indonesia dibanding tenaga surya. Sebab, potensi air lebih besar dibanding potensi surya di Indonesia. "Jadi kalau ada bendungan, kita tambahkan pembangkit," katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, pembangkit listrik

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup