Investor Asing Mulai Lirik Industri Pakan Ikan dan Udang

— Beberapa investor asing tertarik untuk membangun pabrik pakan udang dan ikan di Indonesia seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan produksi perikanan.
Juli Etha Ramaida Manalu | 08 Mei 2019 09:26 WIB
Pakan Ikan - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Beberapa investor asing tertarik untuk membangun pabrik pakan udang dan ikan di Indonesia seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan produksi perikanan.

Beberapa calon investor itu berasal dari China, Taiwan, Inggris, dan Belanda. Bahkan, minat mereka untuk masuk ke Indonesia sudah diutarakan sejak akhir 2016.

Pada 2016, ada tiga perusahaan asing yang berniat mendirikan pabrik pakan ikan di Indonesia, yakni Royale De Heuss dari Belanda, Tong Wei dan Haid Group dari China.

Ketua Divisi Akuakultur Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Haris Muhtadi menyebutkan bahwa ada sejumlah perusahaan lain yang juga membidik Indonesia, yakni Skretting dari Inggris, Thai Union dari Thailand, dan Evergreen dari Taiwan.

Namun, hingga saat ini baru dua perusahaan yang telah dan akan segera merealisasikan investasi di Indonesia, yaitu Evergreen dan Tong Wei. Kapasitas produksi dari kedua perusahaan itu diprediksi mencapai 60.000 ton per tahun khusus untuk pakan udang.

Tong Wei telah memulai produksi pakan udang pada awal tahun ini, sedangkan Evergreen segera merampungkan konstruksi pabrik dan diprediksi akan mulai beroperasi pada September atau Oktober 2019.

Haris menyambut baik bertambahnya investasi di sektor pakan udang. Namun, di balik itu, ada satu kondisi yang perlu dicermati semua pemangku kepentingan.

Menurutnya, tanpa adanya kedua pabrik baru tersebut, total kapasitas terpasang pabrikan pakan udang saat ini telah mencapai 460.000 ton per tahun. Padahal, penjualan pakan udang maksimum yang berpotensi terjadi adalah 325.000 ton.

Dengan demikian, ada 135.000 ton atau 29,34% dari total kapasitas pabrik terpasang yang saat ini tidak terpakai. Dengan bertambahnya kapasitas terpasang oleh kedua pabrikan baru tersebut, gap antara kapasitas terpasang dan terpakai berpotensi makin besar.

“Problem di Indonesia adalah kapasitas produksi budi daya ini rendah sekali. Sementara itu, kapasitas terpasang pabrik pakan juga sudah tinggi. Makanya, saya sering aneh kalau ada orang investasi baru pabrik pakan karena sudah lebih-lebih sebenarnya kapasitasnya,” kata Haris, belum lama ini.

Haris pun menduga bahwa keadaan inilah yang membuat calon-calon investor lainnya seperti Thai Union yang berencana untuk berkolaborasi dengan perusahaan dalam negeri masih belum memulai konstruksi pabrik pakan ikan.

Selain itu, produksi udang budi daya di dalam negeri pada tahun ini diprediksi turun dibandingkan dengan tahun lalu. Penurunan produksi udang akan berdampak terhadap pelemahan permintaan pakan udang.

Sejumlah hal seperti penyakit, cuaca, dan lainnya disebut menjadi pemicu penurunan produksi udang dalam negeri.

GPMT memprediksi serapan pakan udang pada semester I/2019 turun sebesar 2%—3% dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 140.684 ton.

Perusahaan-perusahaan pakan tersebut memang tidak hanya akan memproduksi pakan udang, tetapi juga pakan ikan.

Namun, pertumbuhan permintaan pakan ikan pun diprediksi tidak akan bertumbuh terlalu besar, yaitu hanya sekitar 1%—3% pada paruh pertama tahun ini dari 682.794 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perikanan, pakan ikan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup