BELT AND ROAD : Apindo Sambut Baik Proyek Empat Koridor Indonesia 

Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo menyambut baik langkah pemerintah Indonesia memulai pembangunan proyek Belt and Road bersama China  yang disebut Empat Koridor Indonesia.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 27 April 2019  |  01:05 WIB
BELT AND ROAD : Apindo Sambut Baik Proyek Empat Koridor Indonesia 
Wapres RI Jusuf Kalla bertemu Presiden Cina Xi Jinping untuk membicarakan hubungan dagang dua negara, khususnya dalam Belt And Road Forum II. Pertemuan bilateral dilaksanakan di ruang Eastern, Great Hall of People, Beijing pada Kamis (25/4/2019). - Bisnis/Setwapres

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo menyambut baik langkah pemerintah Indonesia memulai pembangunan proyek Belt and Road bersama China  yang disebut Empat Koridor Indonesia.

Hal itu ditandai penandatanganan 30 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara perusahaan Indonesia dan perusahaan China yang disaksikan langsung Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. 

JK mengatakan ke depannya, hubungan bisnis antara Indonesia dan China lebih banyak berbentuk B to B daripada government to governent (G to G).

Menanggapi hal itu, Ketua Apindo, Hariyadi Sukamdani, mengatakan hubungan bisnis Indonesia dan China secara B to B cenderung lebih baik ketimbang secara G to G.

Secara fiskal, hubungan tersebut juga lebih aman lantaran utang bukan tanggungan pemerintah Indonesia melainkan swasta.

“Bagus ya, kalau B to B itu kan risikonya ada di perusahaan bukan di pemerintah dan dari segi fiskal juga lebih aman karena kan yang pinjam itu swasta dan kemungkinan besar kalau investor Indonesia equity-nya lebih kecil, Chinanya lebih besar, itu kan juga bagus,” kata Hariyadi kepada Bisnis, Jumat (26/4/2019).

Hariyadi mencontohkan, seperti halnya di Sri Lanka dan Maldives, China cenderung memiliki porsi lebih besar dibandingkan pemerintah setempat. Akibatnya, kedua negara tersebut mau tak mau berutang terhadap China.

Meski ke depan hubungan Indonesia dan China cenderung B to B, Hariyadi mengingatkan agar sejak awal pemerintah sudah mengatur perihal tenaga kerja, transfer teknologi hingga segi pekerjaannya.

“Poinnya, B to B lebih bagus hanya memang pengaturan soal tenaga kerja, transfer teknologinya gimana, dari segi pekerjaannya juga sebaiknya diomongin lebih awal sama Pemerintah,” ujar Hariyadi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, one belt one road

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top