KTT Belt and Road: Tangkal Kritik, Xi Jinping Perangi Korupsi Tanpa Pandang Bulu

Presiden China Xi Jinping berjanji merapikan program infrastruktur Belt and Road di tengah membanjirnya kritik bahwa inisiasi ini mendorong pembengkakan utang dan ketergantungan negara-negara lain pada China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 April 2019  |  10:16 WIB
KTT Belt and Road: Tangkal Kritik, Xi Jinping Perangi Korupsi Tanpa Pandang Bulu
Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato di KTT kedua Belt and Road untuk Kerjasama Internasional di Beijing pada Jumat (26/5/2019). - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden China Xi Jinping berjanji merapikan program infrastruktur Belt and Road di tengah membanjirnya kritik bahwa inisiasi ini mendorong pembengkakan utang dan ketergantungan negara-negara lain pada China.

“Kita perlu menjaga bahwa semua kerja sama dilakukan untuk memerangi korupsi dengan tanpa toleransi,” tegas Xi Jinping dalam pidato di KTT kedua Belt and Road untuk Kerjasama Internasional di Beijing, Jumat (26/5/2019).

Xi juga berjanji China akan bernegosiasi dan menandatangani perjanjian perdagangan bebas berstandar tinggi dengan lebih banyak negara serta memperkuat kerja sama di bidang kepabeanan, perpajakan, audit dan pengawasan.

Selain itu, China akan membangun mekanisme kerja sama untuk bersama-sama membangun sistem pengumpulan dan pengelolaan pajak untuk Belt and Road.

"Kita perlu mengupayakan kerja sama berstandar tinggi. Kami akan menerapkan aturan dan standar yang diterima secara luas, serta mendorong perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi untuk mengikuti aturan dan standar internasional umum dalam pengembangan produk, pengadaan operasi, tender, dan penawaran,” lanjut Xi, seperti dilansir Bloomberg.

Sekitar 5.000 peserta dari seluruh dunia menyaksikan pidato XI tersebut. Pejabat pemerintah China sebelumnya telah berjanji untuk memperbaiki pengaturan pendanaan untuk proyek-proyek di sepanjang jaringan Belt and Road.

Langkah itu merupakan respons dari membanjirnya kritik bahwa inisiatif tersebut membebani negara-negara berkembang dengan pinjaman yang tidak dapat mereka bayar.

Belt and Road Initiative (BRI), yang sebelumnya disebut One Belt One Road (OBOR), diinisiasikan oleh China untuk membuka keran konektivitas dagang antarnegara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra maritim.

Pada 2013, Xi meluncurkan rencana untuk membangun kembali rute perdagangan melintasi Eurasia dan menyebutnya sebagai "proyek abad ini".

Sejak saat itu, pemerintah China telah menanamkan miliaran dolar AS ke dalam investasi mulai dari Afrika hingga Pasifik Selatan. Ia memperjuangkannya sebagai sarana untuk memacu pembangunan, itikad baik, dan integrasi ekonomi.

Namun, setidaknya tujuh negara yang telah menyetujui proyek-proyek Belt and Road kemudian menangguhkan atau bahkan menghentikannya. Ada pula yang menghadapi kritik karena keterlibatan mereka dalam program ini.

Awal bulan ini, China mencapai kesepakatan dengan Malaysia untuk melanjutkan proyek East Coast Rail Link senilai 44 miliar ringgit (US$10,7 miliar), turun dari nilai sebelumnya sebesar 65,5 miliar ringgit, setelah Malaysia sempat memutuskan untuk menghentikannya pada Januari di tengah upaya untuk memperkecil defisit anggarannya.

Menjawab adanya kekhawatiran, pemerintah China pun mengambil berbagai langkah untuk melakukan kontrol lebih besar atas program tersebut.

Langkah yang dimaksud di antaranya dorongan publisitas yang lebih diredam, aturan yang lebih jelas untuk perusahaan milik negara, serta membangun audit luar negeri dan mekanisme antikorupsi, seperti yang diungkapkan sejumlah pejabat kepada Bloomberg.

“People's Bank of China akan membangun sistem pembiayaan dan investasi terbuka yang berorientasi pasar,” ujar Gubernur People's Bank of China (PBOC) Yi Gang dalam sambutan singkat di KTT Belt and Road pada Kamis (25/4/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, xi jinping

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top