Opsi Ekspor Beras Medium Baiknya Untuk Diplomasi

Potensi surplus dapat dimanfaatkan sebagai alat diplomasi pemerintah Indonesia, terutama ke negara-negara yang mengalami bencana atau negara yang memang berpotensi untuk menjadi pasar beras Indonesia di masa depan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 24 April 2019  |  15:26 WIB
Opsi Ekspor Beras Medium Baiknya Untuk Diplomasi
Pekerja membersihkan gudang beras Bulog Divre Sulselbar di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/6/2016). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Wacana ekspor beras kualitas medium oleh Indonesia memiliki beberapa tantangan khusus.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, wacana ekspor beras medium berisiko bertentangan dengan Permendag no. 1 tahun 2018 dan juga tantangan teknis seperti penyesuaian kualitas dengan permintaan di pasar internasional.

Pasalnya, saat ini ekspor untuk beras medium masih belum diperbolehkan dan hanya beras premium atau khusus yang boleh diekspor.

“Ketentuan ini sudah diatur di Permendag nomor 1 tahun 2018. Selain itu, kalau mengacu kepada acuan komoditas beras internasional yang dipakai oleh Bank Dunia, jenis-jenis beras yang ada memiliki derajat pecahan beras tertentu yang dijadikan standar dunia," katanya pada Rabu (24/4/2019).

Apabila Indonesia bersikeras mengekspor beras, katanya, harus ada penyesuaian terhadap kualitas tersebut atau setidaknya mencari pasar yang mau menyerap jenis beras dengan kualitas yang saat ini mampu diproduksi petani Indonesia. Kedua opsi itu, lanjutnya, tentu tidak bisa memakan waktu singkat.

Ilman menambahkan dengan mempertimbangkan kedua faktor tadi, wacana untuk mengekspor surplus beras nasional cukup berat untuk dilaksanakan. Namun, ambisi untuk mengekspor sepatutnya ditanggapi positif, karena memang hal tersebut dapat membantu meningkatkan cadangan devisa Indonesia.

Lebih-lebih, Ilman mengusulkan agar potensi surplus tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat diplomasi pemerintah Indonesia, terutama ke negara-negara yang mengalami bencana atau negara yang memang berpotensi untuk menjadi pasar beras Indonesia di masa depan.

Menjadikan beras sebagai instrumen diplomasi adalah hal yang baik dan dapat membuka celah peningkatan hubungan dengan negara-negara tersebut.

"Harapannya, beras dapat dijadikan instrumen diplomasi Indonesia kepada negara lain. Praktik ini tentunya seringkali dilakukan Indonesia dan patut dipertahankan. Selain itu, perlahan dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkenalkan beras Indonesia ke negara lain," katanya.

Tentunya, kata Ilman, hal ini juga perlu diiringi dengan revisi aturan dan juga penyesuaian standar kualitas beras yang sesuai dengan permintaan dunia.

Wacana ekspor beras kian menguat disebutkan oleh Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso pada Januari lalu karena mempertimbangkan masa panen yang segera berakhir. Adapun surplus pada April diperkirakan sebanyak 300.000 ton beras yang berpotensi untuk diekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surplus beras

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup