Harga Properti China Naik 130 Persen Dalam 10 Tahun

Dalam 10 tahun terakhir, kenaikan harga hunian di kota-kota di China tetap menjadi tren. Di Shenzen, Beijing, Hong Kong, dan Shanghai, harganya terus bertumbuh hingga lebih dari 130 persen dalam sedekade.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 24 April 2019  |  17:51 WIB
Harga Properti China Naik 130 Persen Dalam 10 Tahun
Properti China. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga properti residensial di seluruh dunia tercatat mengalami perlambatan yang signifikan pada semester II/2018, membukukan kenaikan harga terendah sejak krisis finansial global. Namun, hal itu tak mempengaruhi pertumbuhan harga properti dalam sedekade terakhir.

Menurut Savills World Cities Prime Residential Index untuk jangka pendek, indeksnya hanya naik 2,3 persen sepanjang 2018, terutama setelah mendapat tambahan perlambatan sebanyak 0,3 persen pada semester II/2018. Jumlah tersebut turun dari pertumbuhan 3,4 persen pada tahun sebelumnya.

Selain Paris, kota-kota lain masih mengalami kenaikan harga hunian primer sepanjang 2018 dan mulai melambat antara Juli dan Desember. Hal ini menunjukkan bahwa harga properti residensial di seluruh dunia sudah terlampau tinggi.

Pada saat yang sama, di kota lain yang mengalami penurunan nilai, juga menunjukkan bahwa harga rumahnya sudah berada di titik terbawah, terlihat dari penurunan harganya yang melambat pada 2018.

“Penurunan harga yang cukup besar terjadi hanya di New York pada paruh kedua 2018, harga ini tertekan oleh banyaknya proyek hunian baru yang selesai. Kemudian, di Dubai, penurunan harga terus berlanjut dengan laju yang stabil sepanjang tahun,” ungkap Justin Marking, Head of Global Residential Savills Global, dikutip dari laporan tertulis, Rabu (24/4/2019).

Kemudian di Eropa, dampak dari penundaan Brexit membuat permintaan di pasar properti London terdorong karena harganya jadi lebih murah. Selanjutnya, Berlin mencatatkan kenaikan terbesar dalam indeks, dengan pertumbuhan harga sepanjang 2017 mencapai 9,1 persen.

“Masih ada pertumbuhan harga Paris dan Madrid, berbanding terbalik dengan London yang mengalami penurunan sekitar 2,6 persen,” papar Marking.

Selanjutnya, di kota-kota negara Asia Pasifik seperti Shanghai, Tokyo, Singapura, Hong Kong, dan Shenzen masih mencatatkan kinerja terbaik. Namun, adanya pelonggaran aturan perumahan di negara-negara tersebut membuat pertumbuhan harganya melambat pada tahun lalu.

Menilik secara jangka panjang, dalam 10 tahun terakhir, kenaikan harga hunian di kota-kota di China tetap menjadi tren. Di Shenzen, Beijing, Hong Kong, dan Shanghai, harganya terus bertumbuh hingga lebih dari 130 persen dalam sedekade.

“Hal itu jelas mencerminkan kenaikan tingkat kekayaan masyarakat kelas menengah dan tingkat urbanisasi di China. Ini juga membuat Hong Kong menjadi kota kelas dunia,” jelasnya.

Kenaikan harga properti di China diikuti oleh Berlin yang mencatatkan kenaikan harga hingga 119%, paling signifikan di seluruh Eropa.

Kemudian, Tokyo, Paris, London, New York, Singapura dan Miami hanya mengalami pertumbuhan harga sekitar 40% dalam sedekade dengan pola dan laju yang berbeda-beda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pasar properti, harga properti

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top