Waspadai Gagal Panen Produk Hortikultura

Risiko tanam sekarang musti diambil daripada terlambat. Pasalnya terlambat sedikit saja, justru menimbulkan risiko gagal panen pada September dan setelahnya.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 22 April 2019  |  16:27 WIB
Waspadai Gagal Panen Produk Hortikultura
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Petani diminta mewaspadai kemungkinan gagal panen produk hortikultura seperti bawang merah dan cabai pada musim tanam 2019.

Harmanto, Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Kementerian Pertanian mengatakan iklim tahun ini bisa saja mengganggu produksi cabai dan bawang. Lebih-lebih kalau curah hujan terus tinggi kemungkinan gagal panen pun menghantui.

"Cabai, bawang dan hortikultura lain ada kemungkinan gagal panen kalau hujan dia rontok [bunganya] tidak jadi panen. Dengan kemungkinan hujan begini saran kami adalah petani melakukan green house dan diproteksi," katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Harmanto menambahkan menanam di bulan ini sebenarnya akan bagus bagi petani karena pas bunga mekar mulai masuk musim kemarau. Tapi dengan catatan, petani harus menyiapkan penutup tanaman atau shading untuk memproteksi tanaman kelebihan pasokan air.

Menurutnya, risiko tanam sekarang musti diambil daripada terlambat. Pasalnya terlambat sedikit saja, justru menimbulkan risiko gagal panen pada September dan setelahnya.

"Tanam Mei, September hujan. Petani hortikultura terlambat tanam sekarang bahaya untuk nanti di musim hujan. Saat pembungaan tidak boleh ada hujan. Harus diproteksi jangan terkena curah hujan langsung," imbuhnya.

Kendati demikian, Harmanto menjelaskan ada potensi El Nino kecil tahun ini yang memungkinkan masa tanam juga menjadi mundur. Pasalnya BMKG pun merilis puncak kemarau 2019 terjadi pada Agustus dan September.

Selain itu, Harmanto pun mengindikasikan tingginya harga bawang merah akibat dari off season atau sedang tidak panen. Produksi sedang tidak melimpah akibatnya harga menjadi tinggi. Oleh sebab itu, dia menyarankan supaya ada manajemen stok untuk menghadapai pasca panen.

"Produksi tidak melimpah jadi harga tinggi. Maka itu on farm dan off farm musti disiapkan. Penyimpanan pasca panen harus disiapkan. Pada saat kemarau [nanti] tidak banyak tanam atau off season, jadi nilai jual juga tinggi," katanya.

Dia pun memprediksikan apabila produksi tidak ada hambatan, bawang merah ditargetkan bisa mencapai 1,41 juta ton pada 2019.

Sementara itu berdasarkan pemantauan harga, Informasi Pangan Jakarta yang dikelola oleh pemerintah daerah harga bawang merah terus menanjak. Rata-rata harga bawang merah di Jakarta Rp42.234/kg.

Harga terendah adalah Pasar Senen Rp25.000/kg sedangkan harga paling tinggi adalah Pasar Induk Kramat Jati yakni Rp50.000/kg pada Senin (22/4).

Ironisnya adalah pasokan ke sentra perdagangan itu tercatat meningkat. Badan Ketahanan Pangan mencatat pasokan bawang merah ke Pasar Induk naik 33% yakni 95 ton (16/4) dibandingkan dengan hari sebelumnya 71 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hortikultura

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup