Kerek Target Ekspor, Kemendag Dinilai Tak Realistis

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pekan lalu mengatakan, ekspor nonmigas pada tahun ini ditargetkan tumbuh 8%.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 22 April 2019  |  11:57 WIB
Kerek Target Ekspor, Kemendag Dinilai Tak Realistis
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan) berjabat tangan dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia Simon Birmingham, di sela-sela penandatanganan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), di Jakarta, Senin (4/3/2019). - REUTERS/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan menaikkan target ekspor nonmigas menjadi 8%, padahal pertumbuhan ekspor nonmigas masih negatif pada kuartal I/2019. Ambisi pemerintah tersebut dinilai tidak realistis di tengah ancaman perang dagang di pasar global.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pekan lalu mengatakan, ekspor nonmigas pada tahun ini ditargetkan tumbuh 8%. Hal itu, sebutnya, didasarkan pada cepatnya perkembangan digitalisasi infrastruktur industri dan sosial di seluruh dunia dalam Revolusi Industri 4.0.

Enggartiasto meyakini target tersebut akan tercapai dengan adanya dukungan peningkatan kapasitas industri dan peningkatan pembukaan pasar-pasar baru tujuan ekspor serta percepatan perjanjian yang dilakukan Kementerian Perdagangan.

Dukungan lain terhadap ekspor nonmigas, menurutnya akan datang dari sektor-sektor yang menjadi prioritas pada era Revolusi Industri 4.0. yakni makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, dan kimia.

“Pada 2019, ekspor tekstil dan produk tekstil diproyeksikan meningkat hingga 30%. Ekspor produk makanan dan minuman juga diprediksi akan meningkat dan semakin kompetitif,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir pertengahan bulan ini, nilai ekspor nonmigas sepanjang kuartal I/2019 mencapai US$37,07 miliar atau terkoreksi 7,83% secara year on year (yoy). Pada saat yang hampir bersamaan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menaikkan target pertumbuhan ekspor nonmigas tahun ini dari 7,5% atau sebesar U$175 miliar secara yoy menjadi 8% sebesar US$175,8 miliar secara yoy.

Sementara itu, berdasarkan catatan Bisnis, nilai ekspor nonmigas kuartal I/2018 berhasil mencapai US$44,27 miliar atau tumbuh 0,08% dari periode yang sama pada 2017. Namun, hingga akhir 2018, nilai ekspor nonmigas hanya mampu tumbuh 6,25% menjadi US$162,65 miliar atau di bawah target pertumbuhan 11%.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, melihat kinerja ekspor yang masih terkoreksi sepanjang kuartal I/2019, pemerintah seharusnya lebih cermat dalam menghitung dan memetakan tantangan ekspor pada tahun ini. Pasalnya, tahun ini bukanlah periode yang mudah bagi sektor perdagangan global.

“Tahun ini ada proyeksi perlambatan ekonomi dunia. Kita belum tahu apakah pemulihan ekspor dan impor pada Maret 2019 akan kembali berlanjut pada periode setelahnya. Untuk itu, perlu mitigasi yang lebih komprehensif dari pemerintah untuk benar-benar mendorong realisasi [kenaikan] target ekspor nonmigas tersebut,” ujarnya, Minggu (21/4).

Dia menambahkan, dengan masih tingginya hambatan dagang nontarif di sejumlah negara mitra dan masih turunnya harga komoditas andalan ekspor Indonesia, pemerintah harus bekerja keras untuk merealisasikan target tersebut.

Terlebih, surplus neraca perdagangan pada Maret 2019—yang dinilai sebagai periode dengan surplus neraca perdagangan terbaik tahun ini—lebih disebabkan oleh pertumbuhan ekspor produk pertanian dan pertambangan yang didominasi komoditas mentah.

BPS mencatat sektor pertanian tumbuh 15,91% menjadi US$270,3 juta secara moth to month (mtm) dan pertambangan tumbuh 31,08% menjadi US$2,35 miliar secara mtm. Sementara itu, ekspor industri pengolahan hanya tumbuh 9,48% secara mtm menjadi US$10,37 milar.

Menurutnya, masih rendahnya harga komoditas andalan ekspor RI, terutama yang bersifat produk primer seperti minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), karet dan batu bara, masih akan terus melukai kinerja ekspor nonmigas RI tahun ini.

“Hal itu terbukti setidaknya pada kuartal I/2019 ini. Secara umum ketiga komoditas andalan ekspor nonmigas itu masih tumbuh volumenya, tetapi secara nilai masih lebih rendah dari tahun lalu.”

Fithra menambahkan, salah satu alasan Kemendag menaikkan target ekspor nonmigas tahun ini adalah karena adanya dukungan dari perkembangan Revolusi Industri 4.0.

Namun, pertimbangan tersebut dinilai bukanlah sebuah dasar yang kuat. Pasalnya, hingga saat ini industri manufaktur RI belum betul-betul terlihat secara nyata melakukan peralihan ke Revolusi Industri 4.0 tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup