Labuan Bajo Berbenah untuk Melayani Turis Nomad

Karakteristik wisatawan yang datang ke Labuan Bajo bermalam di atas kapal pesiar atau pinisi.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 22 April 2019  |  08:06 WIB
Labuan Bajo Berbenah untuk Melayani Turis Nomad
Nelayan melintas saat matahari tenggelam di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

MANGGARAI BARAT — Gaya berwisata nomad atau nomadic tourism kini makin populer. Untuk menarik turis nomad yang tidak pernah menetap lama di satu lokasi, Kementerian Pariwisata mendorong pembangunan fasilitas wisata seperti glam camp, home pod, dan caravan.

Salah satu lokasi yang tengah dibangun nomadic tourism yakni destinasi super prioritas Labuan Bajo. Pembangunan nomadic tourism oleh Kementerian Pariwisata di area Labuan Bajo ini pun bukan tanpa alasan. Pasalnya, karakteristik wisatawan yang datang ke destinasi ini bermalam di atas kapal pesiar atau pinisi. Ya memang sensasi tersendiri.

Selain itu pula, untuk membangun kawasan Labuan Bajo seperti The Nusa Dua baik yang berada di Bali maupun Mandalika yang berada di Lombok yang membutuhkan waktu 20 tahun hingga 30 tahun. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan konsep nomadic tourism sebagai solusi sementara dalam pengembangan pariwisata. Terlebih, liveaboard yang telah berkembang 5—7 tahun terakhir di Labuan Bajo sebagai contoh dari nomadic tourism

"Ini bisa jadi solusi amenitas dan juga akses bagi wisatawan nomadic tourism. Dulu mengenalnya sebagai wisata minat khusus tetapi seiring perkembangan zaman, tren ini menjelma menjadi wisata minat umum," ujarnya. 

Pengembangan Nomadic Tourism di Labuan Bajo akan dipercepat agar mendapat hasil yang lebih baik terutama dalam bidang amenitas. Amenitas ini diperlukan untuk meningkatkan dan memudahkan wisatawan di Labuan Bajo. Sementara untuk atraksi di Labuan Bajo sudah tidak perlu ditanyakan lagi karena terkenal dengan Pulau Komodo dan tempat diving terbaik dunia. 

Dia menargetkan pembangunan nomadic tourism di Labuan Bajo ini akan selesai pada tahun ini. Adapun, salah satu lokasi yang akan dikembangkan nomadic tourism yakni Pulau Saloka. 

"Nomadic tourism ini memang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Terutama turis asing yang ingin memperoleh pengalaman berbeda, glamping dan sebagainya," ucap Arief. 

Nomadic tourism merupakan strategi dapat menjangkau destinasi alam potensial di sejumlah kepulauan yang sulit dijangkau, seperti wilayah Labuan Bajo, Maluku, dan sekitarnya. 

Ketika semakin banyak pemain menawarkan sensasi island hopping dengan konsep liveaboard, hal yang menjadi kunci adalah inovasi pengembangan produk baru.

Pengelola homestay di Pulau Wingkol, Condo Subagyo mengatakan konsep nomadic tourism sejak tahun 1995. Saat ini pihaknya tengah membangun 10 homestay yang akan selesai pada pertengahan tahun di Wingkol. Pembangunan homestay dilakukan secara ramah lingkungan bergaya Manggarai Barat. 

"Kami buat sensasi berbeda wisatanya. Saya memulai dengan apa yang Pak Menteri lakukan dengan homestay. Di tempat saya ada camping, kayaking. Tempat saya di Wingkol," kata Condo.

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores Shana Fatina menuturkan nomadic tourism ini sangat menjanjikan untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Adapun jumlah kunjungan wisman dan wisnus pada akhir tahun lalu mencapai 160.000 kunjungan di Labuan Bajo. Pada tahun ini,ditargetkan jumlah kunjungan wisman dan wisnus ditargetkan mencapai 200.000 kunjungan. 

Tantangan dalam pembangunan nomadic tourism di Labuan Bajo yakni bagaimana memindahkan wisatawan dari yang mencoba liveaboard ke daratan yakni homestay sehingga dibutuhkan atraksi yang mendukung di sekitar. 

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan untuk membangun konsep nomadic tourism ini diperlukan kehati-hatian agar tak merusak alam. 

"Perlu ada pemetaan lokasi mana yang boleh dan mana yang tidak agar tidak merusak alam karena di Labuan Bajo kebanyakan cagar alam," ucapnya. 

Nomadic tourism ini tak terbatas pada kesiapan aksesibilitas maupun amenitas dari destinasi dan dibutuhkan promosi yang berkelanjutan. 

Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azahari menuturkan konsep nomadic tourism yang menyatu dengan alam dan kultur Indonesia ini sangat cocok. 

Namun, tak semuanya destinasi wisata bisa dilakukan nomadic tourism sehingga perlu pemetaan wilayah wisata. Selain itu, dalam pengembangan destinasi wisata ini diperlukan pelibatan masyarakat lokal. 

"Nomadic tourism ini juga harus ada pelibatan masyarakat sekitar agar tetap kental budayanya. Berwisata alam dan budaya," tuturnya. 

Konsep nomadic tourism ini memang tengah digencarkan oleh Kementerian Pariwisata sejak tahun lalu. Namun pemerintah perlu ada pemetaan wilayah mana saja yang cocok dibuat menjadi nomadic tourism. Jangan sampai karena latah dan tren belaka pengembangan wisata di Tanah Air menjadi nomadic tourism

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
destinasi wisata

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top