Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Respons Pelemahan Ekonomi, Bank Sentral Australia Tahan Suku Bunga

Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level 1,5%, sebuah kebijakan yang sudah diperkirakan sebelumnya oleh pasar dan ekonom.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 05 Maret 2019  |  16:23 WIB
The Reserve Bank of Australia (RBA) adalah bank sentral Australia, dengan fungsi dan kekuasaan berlandaskan pada Reserve Bank Act 1959.  - Bisnis.com
The Reserve Bank of Australia (RBA) adalah bank sentral Australia, dengan fungsi dan kekuasaan berlandaskan pada Reserve Bank Act 1959. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level 1,5%, sebuah kebijakan yang sudah diperkirakan sebelumnya oleh pasar dan ekonom.

Gubernur Bank Sentral Australia, Philip Lowe mengatakan ketidakpastian ekonomi domestik sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pendapatan rumah tangga yang melemah dan penurunan harga perumahan di beberapa kota.

"Permintaan kredit oleh investor di pasar perumahan telah melambat karena dinamika pasar perumahan yang berubah," ujar Lowe seperti dikutip melalui Reuters, Selasa (5/3).

Bank sentral berada di bawah tekanan untuk segera mengakhiri jeda pemangkasan suku bunga sejak dua setengah tahun lalu di tengah tanda-tanda pelemahan konsumsi hingga merosotnya pasar properti.

Harga rumah di Sydney jatuh 13% dari puncaknya pada pertengahan 2017 sementara pinjaman bank tercatat terlemah sejak 1980-an.

Lowe cukup yakin bahwa tingkat penerimaan kerja yang bertambah serta jumlah pengangguran yang terus berkurang dapat mendukung laporan produk domestik bruto (PDB) yang akan diumumkan pada Rabu (6/3/2019).

"Pasar tenaga kerja yang lebih kuat telah menyokong pertumbuhan upah di beberapa sektor, ini merupakan sebuah perkembangan yang disambut baik," kata Lowe.

Menurutnya, peningkatan di pasar tenaga kerja masih harus menunggu pertumbuhan upah pekerja di sejumlah sektor lainnya dan diharapkan akan menjadi proses yang bertahap.

Analis yang disurvei oleh Reuters memiliki pandangan skeptis terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi Australia yang hanya menyentuh 0,3% pada kuartal ketiga tahun lalu.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,4% pada kuartal IV/2018 dari kuartal sebelumnya dan 2,6% dari tahun sebelumnya. Perkiraan ini cukup masuk akal tetapi tidak cukup untuk membatasi kapasitas cadangan di pasar lapangan kerja.

Pertumbuhan tahunan untuk tahun lalu diperkirakan akan melambat dari 2,8% menjadi 2,5%, membuat proyeksi 3% dari RBA terlihat terlalu optimistis.

Menurut ekonom Citi, Josh Williamson, realisasi pertumbuhan yang stagnan akan menyebabkan RBA bergeser ke posisi dovish dari bias netral saat ini. Bank sentral bulan lalu memutuskan untuk meninggalkan bias pengetatan moneter pada bulan lalu.

Lowe turut mengakui bahwa ekonomi Australia, senilai 1,8 triliun dolar Australia, diperkirakan memperlihatkan perlambatan pada paruh kedua tahun 2018.

Namun dia berharap pertumbuhan dapat melesat hingga 3% tahun ini berkat peningkatan dari investasi bisnis, pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi, serta stimulus kebijakan moneter.

"Kami pikir penurunan suku bunga tahun ini untuk sementara tidak dijamin akan terjadi. Pelemahan pertumbuhan regional dan global terjadi pada saat yang kurang tepat bagi Australia, dimana dinamika konsumen lokal terbentang pada variasi yang beragam," ujar Ekonom Nomura Andrew Ticehurst.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi australia
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top