Data PDB AS Dirilis, Powell Tegaskan Sikap The Fed Soal Suku Bunga

Gubernur Federal Reserve Amerika Serikat (AS) Jerome Powell kembali menegaskan sikap bank sentral AS tersebut soal suku bunga dalam menghadapi beragam sinyal ekonomi.
Renat Sofie Andriani | 01 Maret 2019 10:51 WIB
Jerome Powell -

Bisnis.com, JAKARTA – Gubernur Federal Reserve Amerika Serikat (AS) Jerome Powell kembali menegaskan sikap bank sentral AS tersebut soal suku bunga dalam menghadapi beragam sinyal ekonomi.

“Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan bersabar ketika menentukan penyesuaian di masa depan terhadap kisaran target untuk federal funds rate (suku bunga) yang mungkin sesuai untuk mendukung tujuan-tujuan kami,” tutur Powell dalam teks pidatonya Kamis malam di New York.

“Pendekatan manajemen risiko yang masuk akal ini telah membantu FOMC dengan baik di masa lalu,” tambahnya, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (1/3/2019).

Para pembuat kebijakan The Fed telah mempertahankan kisaran target suku bunganya di 2,25%-2,5%, ketika mengadakan pertemuan pada 29-30 Januari.

Rapat kebijakan berikutnya akan digelar di Washington pada 19-20 Maret. Sebagian besar ekonom dan investor memperkirakan The Fed masih akan tidak mengubah suku bunganya.

Pernyataan Powell disampaikan pascarilis laporan Departemen Perdagangan yang menunjukkan ekonomi AS melambat lebih kecil dari ekspektasi pada kuartal IV/2018.

Pertumbuhan secara tahunan untuk kuartal tersebut mencapai 2,6%, lebih besar dari proyeksi sebesar 2,2% meskipun lebih rendah dari pertumbuhan pada kuartal III sebesar 3,4%.

Pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal keempat itu berhasil mendorong produk domestik bruto (PDB) AS naik 2,9% untuk tahun tersebut, sedikit di bawah target yang ditetapkan pemerintahan Trump yakni 3%.

Kendati tidak merujuk data baru itu, Powell menggambarkan ekonomi berada “di tempat yang baik”. Berlanjutnya ekspansi tersebut menekan turun tingkat pengangguran untuk semua kelompok ras dan etnis, meningkatkan partisipasi angkatan kerja, serta menaikkan upah.

“Itu semua telah datang dengan inflasi yang terus rendah. Tanda-tanda tekanan ke atas pada inflasi tampaknya teredam terlepas dari pasar tenaga kerja yang kuat,” lanjut Powell.

Pernyataannya juga menyoroti “sinyal yang saling bertentangan tentang prospek jangka pendek”. Hal ini di antaranya adalah perlambatan pertumbuhan di China dan Eropa, ketidakpastian seputar Brexit dan negosiasi perdagangan yang tengah berlangsung, serta penjualan ritel yang lesu pada Desember.

Para ekonom selanjutnya memperkirakan PDB AS akan berekspansi 2,5% pada 2019 meskipun laju pertumbuhan kuartalan secara bertahap melambat hingga 2020, menurut estimasi yang dilacak oleh Bloomberg.

Mengulangi pesan yang dia sampaikan di hadapan Kongres AS awal pekan ini, Powell juga menguraikan dua tantangan jangka panjang yang dihadapi ekonomi AS, yakni pertumbuhan angkatan kerja yang melambat dan pertumbuhan produktivitas yang lebih rendah.

Solusi-solusi untuk isu tersebut menurutnya berada di luar lingkup The Fed, tetapi Powell mendesak pejabat pemerintah lainnya untuk mengatasi isu-isu itu.

“Kebijakan yang memberi pekerjaan produktif pada pekerja berusia lanjut, khususnya mereka yang mungkin tertinggal karena keterampilan atau pendidikan rendah, dapat membawa manfaat besar bagi pekerja tersebut dan bagi perekonomian kita,” ungkap Powell.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup