LRT Jabotabek Akankah Senasib dengan LRT Palembang?

Pembangunan kereta ringan LRT Jabotabek sudah mencapai sekitar 60%. Kereta dengan tarif Rp12.000 sekali jalan itu diharapkan mampu mengurangi kemacetan jalanan. Namun, sepinya LRT Palembang menjadi bayang-bayang kekhawatiran bahwa LRT ini juga akan bernasib sama.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  11:05 WIB
LRT Jabotabek Akankah Senasib dengan LRT Palembang?
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Light Rail Transit ( LRT) di Jakarta, Senin (14/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Pembangunan kereta ringan LRT Jabotabek sudah mencapai sekitar 60%. Kereta dengan tarif Rp12.000 sekali jalan itu diharapkan mampu mengurangi kemacetan jalanan. Namun, sepinya LRT Palembang menjadi bayang-bayang kekhawatiran bahwa LRT ini juga akan bernasib sama.

Tingginya pergerakan manusia dari kota penyangga ke Jakarta dan sebaliknya sangat tinggi, khususnya saat peak hour di hari kerja. Setidaknya, terdapat selisih 3 juta orang pada siang hari yang berada di Jakarta daripada malam hari. Tentunya pergerakan orang itu masuk dari kota penyangga seperti Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor. Akibatnya, tiap hari terdapat ratusan ribu kendaraan yang keluar masuk Jakarta.

Apabila diperinci, menurut laporan PT Adhi Karya (Persero) Tbk., ada sekitar 571.000 kendaraan dari Bekasi, 425.000 kendaraan dari Depok dan Bogor serta 432.000 kendaraan dari Tangerang yang masuk ke Jakarta setiap harinya. Bagaimana dengan angkutan massal?

Jumlah pelaju yang cukup besar itulah yang dibidik oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk. yang menggagas light rail transit (LRT) yang dikhususkan untuk Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek). Selain mengurangi kendaraan pribadi yang masuk ke Jakarta, juga memfasilitasi pergerakan orang agar berpindah ke angkutan massal ini.

Pembangunan dengan nilai pekerjaan Rp22,8 triliun itu berangkat dari Peraturan Presiden No. 98/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi.

Pembangunan angkutan transportasi massal sepanjang 44 kilometer ini direncanakan dapat mengangkut 500.000 penumpang, khususnya pada saat jam sibuk selama delapan jam sehari.

“Untuk bisa mengangkut 500.000 penumpang per hari, maka travelling time dari ujung seperti Bekasi Timur-Dukuh Atas dan Cibubur-Dukuh Atas bisa ditempuh 40 menit dan setiap 3 menit ada kereta,” kata Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata.

Menurut catatan emiten dengan kode saham ADHI, hingga 8 Februari 2019, progres pelaksanaan pembangunan prasarana LRT Jabodebek telah mencapai 58,3%. Dengan perincian, untuk Lintas Pelayanan 1—Cawang—Cibubur progresnya mencapai 78,5%, Lintas Pelayanan 2—Cawang—Kuningan—Dukuh Atas sebesar 46,1%, sementara Lintas Pelayanan 3—Cawang—Bekasi Timur sebesar 52,8%.

Yang dikhawatirkan adalah angkutan itu ternyata sepi pengunjung seperti nasib saudaranya di Palembang. LRT Palembang yang menelan biaya investasi Rp10,9 tiriliun dan subsidi operasional Rp10 miliar per bulan dirasakan sepi penumpang setelah usainya pagelaran Asian Games 2018.

Pemerhati transportasi Darmaningtyas mengatakan kondisi masyarakat di Jabodetabek dengan Palembang sungguh berbeda. Kebutuhan akan angkutan umum massal akan tinggi karena sebagian besar perjalanan masyarakat ke Jakarta bersumber dari Bogor dan juga Bekasi.

Biaya tarif sekali perjalanan kereta ringan sebesar Rp12.000, menurutnya, tidak akan mengurangi minat bagi masyarakat, khususnya yang sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi yang biayanya lebih mahal.

“Pengguna mobil pribadi akan sangat mau [beralih] karena cost bayar tol dan sebagainya jauh lebih mahal,” jelasnya.

Namun, Darmaningtyas lebih condong dengan tarif yang dipukul rata Rp10.000 agar lebih banyak orang yang beralih dari kendaraan pribadi menuju transportasi massal, dan juga sebagai pembelajaran dari LRT Palembang yang sepi penumpang karena dianggap mahal.

Seharusnya, menurutnya, tidak hanya pemerintah pusat yang memberikan subsidi bagi LRT Jabodebek. Seharusnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga turut memberikan subsidi, karena semua perjalanan masyarakat pada jam sibuk menuju ke arah Ibu Kota. “Kalau DKI berkurang tingkat kemacetan, yang diuntungkan adalah Jakarta. Jadi, kalau dikompensasikan subsidi maka tidak ada masalah. Kita semua tahu DKI masih kelebihan anggaran.”

Tarif Keekonomian

Kepala Divisi LRT Jabodebek PT KAI John Roberto mengatakan sebenar­nya tarif awal LRT adalah Rp30.000. Namun, tarifnya menjadi Rp12.000 karena ada subsidi dari pemerintah pusat. “Jadi kalau dari hitung hitung tarif keekonomian itu kan Rp30.000, disubsidi pemerintah tambah dilihat dari kemampuan membayar masyarakat jadi Rp12.000.”

Dia akan melakukan uji coba sinkronisasi kereta LRT Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi pada Juni 2019 setelah satu set rangkaian kereta tiba.

John Roberto mengatakan, untuk menggunakan sarana dan prasarana harus dilakukan integrasi dan sinkronisasi kereta jalur Cibubur-Ciracas. Menurutnya, rangkaian kereta api akan datang bertahap mulai Juni 2019 sebanyak satu set rangkaian kereta, selanjutnya Agustus 2019, hingga nantinya mencapai 31 set rangkaian.

Pekerjaan rumah lainnya yang harus dipersiapkan pengelola LRT masih cukup banyak. Integrasi dengan moda transportasi umum lainnya, juga menjadi titik kunci pengembangan dan upaya untuk meningkatkan permintaan atas LRT Jabodebek.

Dia mencontohkan terintegrasinya LRT dengan Bus Transjakarta atau kereta commuter line yang sudah tersedia, agar dapat mengefektifkan perjalanan para penumpang karena tidak perlu berpindah moda dengan jarak cukup jauh.

Selain itu, perlu dipikirkan sarana lainnya, seperti lahan parkir di sekitaran stasiun LRT, agar para pengguna kendaraan pribadi dapat menitipkan kendaraannya secara aman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lrt jabodebek

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top