NGOBROL EKONOMI: Saat Indikator Perekonomian Membaik, Tak Perlu Gigit Jari

Jangan-jangan, berbagai kecenderungan perbaikan indikator ekonomi belakangan ini malah bikin banyak pihak gigit jari. Bukan senang, justru malah tidak hepi, karena kehilangan peluru untuk mengolok-olok negeri sendiri.
Arif Budisusilo | 11 Februari 2019 11:20 WIB
Pertumbuhan PDB menurut pengeluaran Kuartal IV/2018. Data: BPS

Kalau pergerakan ekonomi bisa dianalogikan dengan perubahan cuaca, hari-hari ini agaknya cuaca Indonesia mulai agak cerah.

Lihat saja pergerakan nilai tukar rupiah. Selama bulan Januari, nilai tukar rupiah telah menguat 2,8%. Dari Rp14.380 per dolar AS di awal Januari menjadi Rp13.972 per dolar AS pada 31 Januari.

Bahkan, rupiah sempat mencapai Rp13.887 per dolar AS pada 6 Februari. Hari-hari pekan kedua Februari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.000-an per dolar AS.

Jika dibandingkan dengan posisi terendah sepanjang 2018, penguatan nilai tukar rupiah ini cukup signifikan. Dengan posisi Rp13.972 per dolar AS pada akhir Januari, berarti rupiah telah menguat 8,5% dibandingkan dengan level terendah rupiah Rp15.270 per dolar AS pada 11 Oktober 2018.

Tentu, ini adalah kabar baik. Pasalnya, tidak hanya rupiah, indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia pun terus menguat.

Pada penutupan perdagangan 31 Januari 2019, IHSG naik 68,78 poin atau 1,06% ke level 6.532,97. Sepanjang Januari tahun ini, IHSG naik 5,6% dibandingkan penutupan perdagangan saham pada 2 Januari. Saat itu, IHSG berada di posisi 6.185,06.

Kenaikan IHSG sepanjang Januari ini memberikan optimisme tersendiri. Arus modal mulai kembali mengalir ke emerging markets. Para pemilik uang yang tadinya berharap ekonomi Amerika lebih menjanjikan, sepertinya mulai berpikir ulang.

Apa tanda-tandanya? Para pembuat kebijakan di bank sentral Amerika, The Fed, mulai ragu untuk terus menaikkan suku bunga. Tren kenaikan suku bunga yang tadinya diduga berlangsung agak lama, mulai menunjukkan sinyal kendor. Tak lagi gaspol.

Beberapa indikator menunjukkan, mulai terjadi aliran dana masuk lumayan deras ke pasar Indonesia selama sebulan terakhir. Bahkan, investor ditengarai membeli instrumen investasi jangka panjang.

Biasanya, perilaku investor mengindikasikan banyak hal lain. Kalau banyak dana mengalir masuk ke instrumen investasi jangka panjang, ada pertanda bahwa perekonomian negara tujuan aliran dana itu memberikan harapan lebih menjanjikan dalam jangka panjang. Kalau mau diringkas, hal itu mengindikasikan kepercayaan terhadap Indonesia menanjak kembali.

Moga-moga saja, itu bukan prediksi yang ngoyoworo, apalagi wishfull thinking.

***

Coba deh buka ulang memori sejak awal tahun lalu, saat nilai tukar rupiah menunjukkan tren melemah Rp14.000 per dolar AS, lalu menembus Rp15.000 per dolar AS menjelang akhir tahun.

Isu mengenai defisit transaksi berjalan rame disoroti sebagai biang keladi pelemahan nilai tukar rupiah. Isu lainnya adalah kebijakan The Fed yang cenderung menaikkan suku bunga, serta perang dagang yang dilemparkan Presiden Donald Trump melawan China.

Para politisi rame berteriak bahwa ekonomi memburuk. Sebagian ekonom pun tak kurang menyuarakan hal yang sama. Banyak saran disampaikan, termasuk menghentikan proyek infrastruktur yang ditengarai sebagai biang kerok impor bahan baku dan barang modal.

IHSG yang jadi tolok ukur aliran modal portofolio, yang mudah digerakkan oleh sentimen sesaat pelaku pasar, juga turut terkapar. Banyak kabar buruk beredar. Itu tahun lalu.

Namun, cerita tentang rupiah hari ini begitu lain. Padahal, tidak banyak sebenarnya perubahan fundamental di dalam negeri, yang dapat menjelaskan mengapa rupiah menguat. Bahkan, kondisi transaksi berjalan juga masih defisit. Kisarannya masih berada di angka US$8 miliar. Sebuah angka yang besar.

Apalagi kalau melihat defisit neraca perdagangan yang mengenaskan. Defisit perdagangan tahun 2018 lalu mencapai US$8,6 miliar. Angka itu membuat banyak pihak gusar.

Namun saya percaya, ekonomi pada dasarnya adalah asumsi. Itu berarti, tidak seluruh asumsi yang dipakai untuk menjelaskan pelemahan rupiah tahun lalu cukup valid. Kalau boleh meminjam istilah hukum, hal itu dapat dijelaskan dengan dalil “pembuktian terbalik”.

Belakangan ini, di saat tidak terjadi perbaikan atau perubahan fundamental ekonomi yang cukup berarti, rupiah ternyata menguat relatif cepat dan signifikan.

Penjelasannya, lalu diasumsikan, akibat perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Dolar Amerika Serikat melemah atas banyak mata uang dunia, terutama emerging markets, setelah The Fed bertahan tidak menaikkan suku bunga.

The Fed, pada Rabu malam (30/1) waktu Jakarta, mempertahankan tingkat bunga di kisaran 2,25% hingga 2,5%. Komite Kebijakan The Fed yang dikenal dengan sebutan FOMC atau Federal Open Market Committee, mesti bersabar mengantisipasi pelambatan ekonomi global.

Akibatnya, dolar AS terus melemah, dan mata uang dunia yang lain, sebaliknya, terus menguat. Menutup bulan Januari, bahkan rupiah menjadi mata uang yang menguat paling besar di Asia. Di belakang rupiah, penguatan terbesar dialami Yen yang naik 0,39% dan Won yang terapresiasi 0,33%.

Tahun lalu, saat rupiah menuju Rp15.000 per dolar AS, banyak sekali meme bully-an yang beredar cepat di grup-grup aplikasi pesan. Isinya hujatan. Namun, hari ini, saat rupiah berbalik menguat signifikan, tak ada pesta bersulang. Sepi apresiasi, apalagi kampai.

***

Terus terang, saya ingin mengapresiasi tim ekonomi pemerintah atas perbaikan berbagai indikator ekonomi akhir-akhir ini.

Memang tidak ada hubungan langsung antara apresiasi rupiah dan tim ekonomi. Namun, pergerakan harga di pasar finansial adalah indikator kepercayaan. Kalau terjadi kecenderungan harga turun, itu indikator kepercayaan yang menipis. Sebaliknya, kalau kecenderungan harga naik, itu berarti kepercayaan menebal. Simpel saja. Nggak usah terlalu njlimet.

Jika rupiah menguat lebih besar dibandingkan dengan mata uang negara lain di Asia, artinya juga simpel: indikasi bahwa pemilik modal dari Amerika menaruh kepercayaan lebih tebal terhadap Indonesia.

Begitu pula sebaliknya. Bisa soal stabilitas, prospek ekonomi, proyeksi risiko dan prospek return atas modal yang ditanamkan.

Untuk ini, ada penjelasannya. Soal moneter, jelas, bahwa Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kian solid menjaga kebijakan berbasis stabilitas.

Bahkan, Bank Indonesia cenderung akan membiarkan rupiah menguat lebih lanjut, karena level saat ini masih undervalued. Karena itu, Bank Indonesia berupaya sekuat tenaga menjaga kepercayaan investor terhadap rupiah, agar terus menguat.

Lalu soal fiskal, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga membukukan kinerja mengesankan. Tak gamang oleh berbagai serangan, Menkeu Sri Mulyani konsisten dengan keyakinan atas pilihan kebijakan fiskal yang ditempuhnya.

Faktanya, Menkeu berhasil meletakkan landasan fiskal yang semakin kokoh. Salah satu indikatornya, dalam 3 tahun terakhir, Menkeu berhasil membalik tren defisit keseimbangan primer menuju ke arah positif.

Bayangkan saja, sejak tahun 2012, defisit keseimbangan primer dalam APBN pemerintah terus membengkak secara konsisten hingga tahun 2014. Puncak defisit keseimbangan primer terjadi pada tahun 2015. Tren tersebut berhasil dihentikan, sehingga berbalik mulai berkurang pada tahun 2016 dan 2017.

Bahkan pada tahun 2018, sudah hampir tidak ada lagi defisit keseimbangan primer dalam APBN Indonesia. Diproyeksikan keseimbangan primer dalam APBN tahun ini akan berbalik surplus. Ini capaian yang sangat tidak mudah, di tengah berbagai disrupsi dalam kegiatan ekonomi, dan dinamika global yang sangat kompleks yang memengaruhi kinerja APBN.

Lantas apa makna surplus keseimbangan primer? Kira-kira begini: di luar keperluan untuk membayar beban pokok dan bunga pinjaman yang telah terakumulasi dari tahun ke tahun, APBN tahun ini sudah tidak lagi membutuhkan pembiayaan defisit. Di atas kertas, tidak perlu utang lagi untuk membiayai operasional APBN. Artinya, secara teoritis profil APBN sehat sekali.

Saya kira, itu adalah berkat tangan dingin Sri Mulyani Indrawati.

Sebenarnya akan lebih sempurna, apabila penerimaan perpajakan juga dapat terus ditingkatkan. Jika hal itu dapat dilakukan, surplus keseimbangan primer akan terus membesar, sehingga secara perlahan akan mengurangi ketergantungan terhadap utang. Di sinilah titik yang perlu diperbaiki: Menkeu perlu menginjak gas lebih dalam untuk memacu reformasi perpajakan.

Di luar indikator moneter dan fiskal, terlalu gegabah bila dibilang catatan ekonomi Indonesia buruk. Tahun lalu, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,17%. Ini disertai stabilitas harga-harga, yang ditandai dengan laju inflasi rendah, di kisaran 3,5%.

Itu tentu bukan sekadar angka statistik. Stabilitas ekonomi itu telah berdampak positif kepada pembangunan manusia secara keseluruhan. Banyak indikator pembangunan ekonomi yang, pinjam istilah Sri Mulyani, “truly matters to the people.”

Sebut saja angka kemiskinan terus menurun menjadi 9,66% dan gini rasio yang kian membaik.  Akan lebih panjang kalau dibuat daftar, seperti pemerataan infrastruktur sampai ke desa-desa dengan dana desa, perbaikan logistik nasional, kemudahan berbisnis dan lainnya.

Puncaknya, pada pekan pertama Februari ini, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi 2018 mencapai 5,18%, terbaik sejak 2014. Setelah itu, PDB per kapita Indonesia dinyatakan memasuki kawasan kelas menengah atas, bukan lagi kelas menengah bawah.

Sekali lagi, tentu masih banyak pula catatan perbaikan yang diperlukan di banyak area pembangunan ekonomi.

Saya sih, cukup happy dengan berbagai indikator itu. Ada tanda-tanda gairah kemajuan, yang memberikan harapan perbaikan kehidupan masyarakat kita ke depan.

Namun, jangan-jangan, berbagai kecenderungan perbaikan indikator ekonomi ini malah bikin banyak pihak gigit jari. Bukan senang, justru malah tidak hepi, karena kehilangan peluru untuk mengolok-olok negeri sendiri.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

  • Sumber: disunting dari rubrik Beranda Bisnis Indonesia edisi 1 Februari 2019. Judul asli: "Penguatan Rupiah yang Bikin Gigit Jari" 
Tag : arif budisusilo, Pertumbuhan Ekonomi
Editor : News Editor

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top