Perbaikan Neraca Pembayaran, Langkah Ini Perlu Ditempuh

Pemerintah dan bank sentral perlu mewaspadai potensi arus modal asing yang masuk dengan kembali berbalik ke luar.
N. Nuriman Jayabuana | 10 Februari 2019 21:09 WIB
Pakar Ekonomi Faisal Basri. - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Neraca Pembayaran Indonesia mencatatkan defisit senilai US$7,3 miliar AS sepanjang 2018. Angka itu berbanding terbalik dengan pencapaian tahun sebelumnya yang mencatatkan surplus senilai US$11,6 miliar.

Neraca pembayaran secara umum mencatatkan seluruh transaksi atas keluar masuknya uang dalam denominasi mata uang asing di suatu negara. Secara garis besar, neraca pembayaran berasal dari dua kelompok transaksi yaitu transaksi dari arus barang/jasa (current account) dan arus modal/finansial (capital account).

Tekanan pada neraca pembayaran terjadi karena defisit akun lancar (current account deficit/CAD) menggelembung hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya dari senilai US$16,96 miliar pada 2017, menjadi senilai US$31,1 milliar di sepanjang 2018.

Sementara itu, arus modal dan finansial US$25,2 miliar lebih kecil dari defisit akun lancar yang menyebabkan defisit pada neraca pembayaran.

Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengungkapkan pemerintah dan bank sentral perlu mewaspadai potensi arus modal asing yang masuk dengan kembali berbalik ke luar.

Untuk mengurangi gejolak makroekonomi ke depan, dirinya mengungkapkan terdapat sejumlah pekerjaan rumah bagi pemerintah.

"Untuk mengurangi gejolak makroekonomi ke depan, pekerjaan rumah kita adalah menekan defisit akun lancar lewat serangkaian kebijakan struktural untuk meningkatkan ekspor dan daya saing industri dalam negeri agar bisa bersaing dengan produk impor. Dengan begitu, kita bisa mengurangi ketergantungan pada dana asing, terutama investasi portofolio," ujarnya, Minggu (10/2/2019).

Dirinya mengungkapkan neraca pembayaran pada 2016 dan 2017 berhasil mencatatkan surplus cukup besar yaitu senilai US$12 miliar dan US$11,5 miliar meski mengalami juga mencatatkan current account deficit.

Hanya saja, arus modal asing yang mengalir ke dalam negeri pada periode tersebut terbilang cukup deras sepanjang tahun sehingga mampu melampaui nilai defisit akun lancar. Kondisi tersebut disebutnya membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil selama periode 2016-2017.

Keadaan tersebut berbalik arah pada 2018 lantaran arus modal asing langsung maupun portofolio mengalami penurunan.

Faisal mengungkapkan perbaikan pada neraca arus modal/finansial sepanjang tahun lalu baru melaju pada tren yang positif pada kuartal akhir 2018. Hal tersebut disebutnya tak terlepas dari langkah pemerintah yang gencar menerbitkan surat utang.

Investor asing kemudian meresponnya dengan membeli surat utang pemerintah senilai US$4,75 miliar. Angka itu lebih besar dari pembelian surat utang negara oleh investor asing selama triwulan I-III 2018 senilai US$4,70 miliar.

Di kuartal akhir 2018, investor asing juga gencar melakukan pembelian surat utang swasta yang berperan terhadap masuknya arus modal senilai US$6,6 miliar. Angka tersebut jauh melampaui keseluruhan tahun 2017 yang hanya senilai US$5,1 miliar.

Dirinya mengungkapkan defisit neraca pembayaran yang terjadi sepanjang tahun lalu terjadi lantaran Indonesia mencatatkan defisit akun lancar tertinggi sepanjang sejarah. Peningkatan defisit akun lancar itu terutama tak terlepas dari lonjakan impor barang sebesar 20,7%, sedangkan ekspor barang hanya tumbuh 7%.

Tag : ekonomi makro, defisit transaksi berjalan
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top