Pasokan Apartemen Baru di Surabaya Bermunculan

Tahun ini, diprediksikan pasokan apartemen baru di Surabaya akan terus bertambah. Kendati demikian, jumlah pasok masih akan lebih tinggi dari jumlah permintaan karena pada tahun politik banyak investor yang masih menunggu pemilihan umum selesai.
Mutiara Nabila | 05 Februari 2019 19:34 WIB
ilustrasi - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Tahun ini, diprediksikan pasokan apartemen baru di Surabaya akan terus bertambah. Kendati demikian, jumlah pasok masih akan lebih tinggi dari jumlah permintaan karena pada tahun politik banyak investor yang masih menunggu pemilihan umum selesai.

Assistant Manager Coldwell Banker Angra Angreni mengatakan, pada 2018 pasokan apertemen Surabaya masih bertumbuh dibandingkan dengan 2017 hingga sekitar 7,5%.

“Dibanding tahun 2017, pasokan mengalami pertumbuhan kurang lebih 7,5% yang berasal dari apartemen segmen menengah dan menengah atas, dengan kisaran harga Rp14,5 juta sampai Rp25 juta per meter persegi,” paparnya kepada Bisnis, Senin (4/2).

Pasokan baru tersebut, kata Angra, tersebar di Surabaya Barat, Surabaya Selatan, dan Surabaya bagian Utara. Adapun, secara keseluruhan, kenaikan rata-rata harga jual berkisar antara 1,5% - 3% dan untuk proyek-proyek tertentu bisa lebih dari 4%.

Tahun ini, karena adanya tahun politik, pengemban perlu memperhatikan pasar dengan saksama. Pasalnya, kondisi tersebut akan mempengaruhi jumlah permintaan dan penyerapan investasi properti, terutama di apartemen.

“Akan ada masanya investor maupun developer menunggu selesainya Pemilu, sehingga penambahan pasokan akan cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2018 yang lalu,” ungkapnya.

Angra memprediksikan pertumbuhan pasokan tahun ini mencapai 6,5% dengan catatan jika proyek yang memang akan muncul tahun ini bisa selesai dan diluncurkan sesuai jadwal. Sementara itu, permintaan diperkirakan hanya akan bertumbuh sekitar 5%.

“Penambahan pasokan masih akan lebih tinggi dibandingkan dengan penyerapannya, hal tersebut mengingat bahwa beberapa proyek sudah melakukan NUP [nomor urut pemesanan] dari tahun sebelumnya dan pengembang berkomitmen untuk melakukan launching proyeknya,” ujarnya.

Untuk lokasi yang paling moncer tahun ini diperkirakan akan berada di Surabaya Barat, disusul di Surabaya Selatan dan Surabya Timur karena pasokan baru akan terdistribusi di ketiga daerah tersebut.

Selain itu, tahun ini diperkirakan harga jual apartemen di Surabaya diprediksi masih akan stagnan dan tertekan.

“Secara rata-rata dimungkinkan akan sedikit bergerak positif di kisaran 2,5%, yang dikontribusi oleh proyek apartemen yang performanya bagus, lokasi bagus, dan dikembangkan oleh developer ternama dengan kisaran rata-rata harga jual di Rp 21,4 juta per meter persegi,” tambahnya.

Dari sisi pengembang, Direktur Pengelolaan Modal dan lnvestasi PT Intiland Development Tbk Archied Noto Pradono mengharap bahwa setelah Pemilu nanti orang-orang tidak lagi bersikap wait and see.

“Kami optimistis penjualan tahun ini bisa lebih baik ya karena sasarannya selain investor juga fokus di end user karena kawasan yang kita jual juga sudah yang lebih mature untuk yang hunian, untuk orang tinggal,” paparnya kepada Bisnis belum lama ini.

Ke depan, Intiland juga masih akan mengembangkan produk apartemen existing, yaitu Graha Golf, Praxis, dan Rosebay, serta perluasan proyek Tierra.

“Jadi memang kita sasaran lebih ke arah end user dan second buyer. Bukan first home buyer, tapi untuk orang yang perlu upgrade, ya paling kita fokus di situ,” lanjutnya.

Untuk target penjualan khusus apartemen di Surabaya, Archied belum bisa menyebutkan. Namun, untuk keseluruhan target marketing sales tahun ini diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun. Adapun, Rp600 miliarnya ditargetkan dari proyek baru di Jakarta maupun Surabaya.

Tag : bisnis properti surabaya
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top