Program Jembatan Udara Dianjutkan, Terbukti Mampu Tekan Biaya Logistik

Kementerian Perhubungan akan melanjutkan program jembatan udara yang dinilai efektif untuk menurunkan baiay logistic, sehingga berdampak kepada disparitas harga dan menjangkau daerah terpencil di Indonesia.
Rio Sandy Pradana | 03 Februari 2019 19:02 WIB
Pesawat Jenis Pilatus Porter milik maskapai Susi Air melakukan tes mendarat di lapangan terbang perintis Arwanop yang dibangun oleh PT Freeport Indonesia , Distrik Tembagapura, Timika, Papua, Kamis (29/6). - ANTARA/Spedy Paereng

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan akan melanjutkan program jembatan udara yang dinilai efektif untuk menurunkan baiay logistic, sehingga berdampak kepada disparitas harga dan menjangkau daerah terpencil di Indonesia.

Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti mengatakan jembatan udara sebagai salah satu program unggulan telah dilaksanakan di lima Korwil pada 2018 yaitu di Korwil Timika, Korwil Wamena, Korwil Dekai, Korwil Masamba dan Korwil Tarakan.

"Tahun ini akan dilanjutkan dengan menambah satu lagi, yakni Korwil Tanah Merah," kata Polana, Minggu (3/2/2019).      Dia menuturkan program jembatan udara yang sudah dilaksanakan sejak 2017 diklaim berhasil menurunkan disparitas harga di daerah yang dilayani.  Program tersebut telah memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga rata-rata lima bahan pokok sebesar 57,21%.

Kendati demikian, beberapa wilayah yang sudah memiliki potensi akan terus dikembangkan. Di antaranya mencakup sektor industri maupun pariwisata yang mampu menggerakkan perekonomian nasional.

Pihaknya telah menetapkan beberapa bandara penunjang kawasan industri dan ekonomi khusus di beberapa wilayah Indonesia. Terdapat tujuh bandara yang ditetapkan untuk peningkatan nilai tambah terkait kawasan industri yaitu Bandara Kualanamu Deli Serdang, Bandara Mutiara Palu, Bandara Haluoleo Kendari, Bandara Bintuni, Bandara Babo, Bandara Sultan Hasanuddin dan Bandara Morowali.

Adapun, untuk Kawasan Ekonomi Khusus terdapat enam bandara yaitu Bandara Sangata, Bandara DEO Sorong, Bandara Sam Ratulangi, Bandara Malikussaleh, Bandara Raja H. Fisabilillah dan Bandara S.M. Badaruddin.

Ditjen Hubud juga menetapkan beberapa bandara sebagai penunjang pembangunan daerah afirmasi yang dibagi dalam tiga kategori yaitu aksesibilitas daerah perbatasan di 24 lokasi, aksesibilitas daerah terisolir di 30 lokasi dan aksesibilitas daerah penanganan bencana di 35 lokasi.

Selain itu, Polana menetapkan beberapa bandara sebagai penunjang destinasi wisata nasional. Khusus pariwisata, Ditjen Hubud pun telah menetapkan beberapa bandara yang menjadi penunjang destinasi wisata yang terbagi dalam tiga kawasan.

Pertama adalah kawasan ekonomi khusus pariwisata yaitu di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Morotai. Kedua, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yaitu Bandara Silangit, Bandara Hanadjoedin, Bandara Sibisa, Bandara Adisucipto, Bandara Djuanda, Bandara Lombok, Bandara Labuan Bajo, Bandara Pongtiku, dan Bandara Matohara. Kawasan ketiga adalah Bandara Dukungan Kemenhub yaitu Bandara Blimbing Sari, Bandara Marinda dan Bandara Wamena.

"Pariwisata merupakan salah satu andalan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional. Kami akan mendukungnya lewat sistem transportasi udara yang selamat, aman, dan nyaman," ujarnya.

Tag : jembatan udara
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top