Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Jurus Pemerintah Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Pemerintah melakukan sejumlah upaya untuk menekan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 29 Januari 2019  |  21:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah melakukan sejumlah upaya untuk menekan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada 2019.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menyampaikan, untuk menekan CAD pemerintah berupaya mendorong ekspor dan mengurangi ketergantungan impor.

Langkah ini dilakukan melalui pengembangan industri pionir yang bersifat dari hulu hingga ke hilir. Dengan demikian, industri tersebut dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri melalui subtitusi impor.

“Oleh karena itu, kami akan mendorong investasi untuk memperkuat industri dari hulu ke hilir melalui paket kebijakan yang sebelumnya telah pemerintah keluarkan,” paparnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Kebijakan tersebut di antaranya ialah penerbitan Online Single Submission (OSS) untuk menyederhanakan proses perizinan di satu tempat, dan mengundang minat pelaku usaha berinvestasi.

Selanjutnya, pemberian tax holiday untuk industri pionir, melakukan relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI), dan perbaikan Ease of Doing Business (EODB), serta membenahi konektivitas untuk mengurangi biaya logistik melalui pengembangan infrastruktur.

Iskandar menambahkan, untuk mengatasi defisit transaksi berjalan, pemberdayaan pasar di dalam negeri juga perlu didorong sebagai bagian subtitusi impor. Hal ini turut membantu pertumbuhan ekonomi sekaligus mengatasi pelemahan permintaan global.

Seperti diketahui, Senin (21/1/2019) International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi PDB global pada 2019 menjadi 3,5% dan 2020 sebesar 3,6%. Estimasi tersebut masing-masing menurun 0,2% dan 0,1% dari proyeksi sebelumnya pada Oktober 2018.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sejumlah US$8,57 miliar sepanjang 2018. Ini sekaligus menjadi defisit pertama sejak 2014 yang mencapai US$2,2 miliar.

Secara umum, defisit pada 2018 disebabkan oleh defisit sektor minyak dan gas (migas) yang mencapai US$12,4 miliar. Adapun, neraca nonmigas masih mengalami surplus sebesar US$3,8 miliar.

Kendati dibayangi tantangan risiko global pada 2019, Bank Indonesia (BI) optimistis defisit transaksi berjalan dapat menurun hingga 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dari kisaran 3% dari PDB pada 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

menko perekonomian defisit transaksi berjalan
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top