Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Shutdown Berkepanjangan Berisiko Tekan Daya Tarik Dolar dan Obligasi AS

Penutupan sebagian pemerintahan federal AS atau government shutdown berisiko menekan pergerakan mata uang dolar Amerika Serikat dan obligasi Treasury jika terus berlarut-larut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  07:53 WIB
Papan pengumuman menyatakan gedung National Archive di Washington DC, AS ditutup selama government shutdown (penutupan pemerintah) sementara diberlakukan, Sabtu (22/12/2018). - Reuters/Joshua Roberts
Papan pengumuman menyatakan gedung National Archive di Washington DC, AS ditutup selama government shutdown (penutupan pemerintah) sementara diberlakukan, Sabtu (22/12/2018). - Reuters/Joshua Roberts

Bisnis.com, JAKARTA – Penutupan sebagian pemerintahan federal AS atau government shutdown berisiko menekan pergerakan mata uang dolar Amerika Serikat dan obligasi treasury jika terus berlarut-larut.

Perselisihan yang berlarut-larut mengenai anggaran belanja pemerintah dapat bertabrakan dengan debat yang membayangi mengenai batas pinjaman AS, yang berpotensi meningkatkan peluang penurunan peringkat kredit AS seperti yang terjadi pada 2011.

Namun sejumlah pengamat memperkirakan reaksi pasar kali ini akan berbeda. Alih-alih mendorong perdagangan ke obligasi pemerntah, kekhawatiran mengenai meningkatnya beban utang AS dapat membalikkan aliran modal dan mendorong imbal hasil lebih tinggi dan dolar melemah.

Selain itu, konsekuensi dari perbaikan jangka pendek mungkin sama jika pengeluaran federal disepakati dengan jumlah yang lebih besar.

Sebagian pemerintahan federal AS telah ditutup sebagian selama lebih dari sebulan. Namun bursa saham AS naik sekitar 9% selama periode itu, sementara dolar AS hanya sedikit melemah dan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun membalikkan penurunan dari awal tahun baru dan saat ini mencapai sekitar 2,74%.

Tetapi karena kebuntuan politik membentang hingga ke menyentuh rekor sepanjang masa hingga minggu kelima tanpa ada tanda resolusi yang jelas, kekhawatiran pertumbuhan semakin meningkat dan investor mulai kehilangan kesabaran.

"Semakin lama ini (shutdown) bertahan, semakin banyak investor kehilangan kesabaran dengan posisi dolar mereka," kata Mark McCormick, kepala analis valas di TD Securities, seperti dikutip Bloomberg.

“Ada risiko penurunan rating kredit, ada ruang bagi orang-orang untuk mengurangi paparan terhadap Treasury AS,” lanjutnya.

McCormick menggambarkan sebuah skenario jika shutdown berlarut-larut hingga akan memicu perdebatan tentang plafon utang negara. Bagi sebagian orang, prospek itu mengingatkan pada pergolakan pasar di sekitar kebuntuan batas utang di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, ketika S&P Global Ratings memangkas rating AS menjadi AAA.

Tindakan itu memicu aksi jual global saham, memperluas penyebaran kredit dan, ironisnya, mendorong perdagangan menuju surat utang AS.

Sementara S&P, Moody ‘s Investor Service dan Fitch Rating masing-masing menandai risiko dari shutdown saat ini, tidak ada yang mengatakan bahwa penurunan peringkat akan segera terjadi.

Tetapi kebuntuan plafon utang lain dapat mendorong volatilitas di pasar obligasi pemerintah yang serupa dengan tahun 2011, menurut David Woo, kepala suku bunga global dan ekonom di Bank of America Corp.

Overflow ekonomi

Situasi saat ini tidak perlu seburuk perkiraan untuk membuat para investor khawatir,. Mereka telah lebihdulu khawatir terhadap dampak shutdown ke sektor publik dan bergejolak di seluruh perekonomian.

Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengatakan bahwa jika penutupan sebagian pemerintah belum berakhir hingga Maret, ekonomi dapat mengalami stagnasi di kuartal pertama.

"Semakin lama berlangsung, semakin besar dampaknya pada pertumbuhan untuk AS secara keseluruhan, di lingkungan di mana Anda sudah melihat pertumbuhan lebih lambat," kata Chuck Tomes, analis portofolio di Manulife Asset Management.

Tomes mengatakan, jika penutupan ini mulai memukul kepercayaan konsumen atau bisnis, hal tersebut akan menjadi sinyal untuk mengurangi eksposur kredit.

Tetapi Tomes mengatakan bahkan jika shutdown diselesaikan bulan ini, dia ragu hal tersebut akan menjadi sinyal positif signifikan yang akan meningkatkan daya tarik aset risiko secara keseluruhan.

Selain itu, dalam pandangannya, solusi jangka pendek mungkin merugikan bagi Treasury dan dolar AS jika pemerintah menggelontorkan lebih banyak pengeluaran.

"Untuk membuat investor asing terus membeli obligasi maka Anda akan membutuhkan imbal hasil yang lebih tinggi atau valuasi yang lebih rendah untuk dolar," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shutdown
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top