Korea Selatan Bertahan Sebagai Negara Paling Inovatif, Jerman Menyusul

Korea Selatan mempertahankan posisi teratas dalam Indeks Inovasi Bloomberg 2019, disusul oleh Jerman dengan perkembangan penelitian dan pendidikannya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  07:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Korea Selatan mempertahankan posisi teratas dalam Indeks Inovasi Bloomberg 2019, disusul oleh Jerman dengan perkembangan penelitian dan pendidikannya.

Sementara itu, Amerika Serikat bergeser ke peringkat kedelapan, setahun setelah celah dalam skor pendidikan mendorongnya keluar dari 10 besar untuk pertama kalinya.

Indeks Inovasi Bloomberg, yang telah memasuki tahun ketujuh, menganalisa sejumlah kriteria menggunakan tujuh metrik, termasuk pengeluaran penelitian dan pengembangan, kemampuan manufaktur, dan konsentrasi perusahaan publik berteknologi tinggi.

Peringkat tersebut dirilis ketika para elit global berkumpul di Forum Ekonomi Dunia minggu ini di Davos, Swiss, di mana mereka akan membahas masa depan globalisasi, peran negara, serta bagaimana inovasi mendorong negara-negara maju.

Dalam Indeks Bloomberg, Jerman nyaris mengungguli Korea Selatan, yang bertahan selama enam periode berturut-turut, pada kekuatan nilai tambah dari intensitas manufaktur serta penelitian.

Sebagian besar poin tersebut dibangun oleh raksasa industri seperti Volkswagen AG, Robert Bosch GmbH, dan Daimler AG. Meskipun Korea Selatan memperpanjang kemenangannya, marjin keunggulan menyempit karena skor yang lebih rendah dalam aktivitas hak paten.

Swedia, yang menjadi runner-up pada 2018, jatuh ke posisi ketujuh. Aktivitas hak paten meningkatkan skor untuk China dan Israel, yang melonjak lima peringkat ke posisi kelima secara keseluruhan. Sementara itu, negara Timur Tengah melampaui Singapura, Swedia, dan Jepang.

Kepala penelitian di Australia & New Zeland Banking Group Ltd., Khoon Goh mengatakan posisi Korea Selatan di nomor teratas mendapat dorongan dari investasi baru dalam teknologi strategis dan program peraturan yang mendorong para perusahaan rintisan.

Namun, dia melihat tantangan dalam memindahkan inovasi melampaui "chaebol besar yang sangat terkonsentrasi," atau konglomerasi yang dikelola keluarga.

"Inovasi menjadi semakin penting untuk mendorong kinerja ekonomi, khususnya di ekonomi Asia di mana tidak ada lagi demografis dan perakitan manufaktur bernilai tambah tinggi yang dialihkan ke negara-negara dengan biaya lebih rendah di kawasan ini," kata Goh, seperti dikutip Bloomberg.

Kenaikan Tentatif

Kenaikan peringkat Jerman juga tampaknya tentatif, karena eksportir terbesar Eropa tersebut berjuang dengan kekurangan pekerja terampil dan perubahan kebijakan imigrasi, menurut Juergen Michels, kepala ekonom Bayerische Landesbank.

Jerman harus mengasah strateginya di sektor teknologi tinggi, termasuk industri seperti diesel, komunikasi digital, dan kecerdasan buatan, tambahnya.

Sementara itu, Inggris jatuh satu peringkat ke posisi 18 dan kalah dari China untuk pertama kalinya. Peringkat China mencerminkan dikotomi dalam ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. Dalam hal paten, China menduduki posisi ke-2, yang didasarkan pada kekuatan pengembangan dan penelitian Huawei Technologies Co. dan BOE Technology Group.

AS naik tiga tempat ke posisi kedelapan, setelah jatuh dari 10 besar untuk pertama kalinya tahun lalu. Siklus produk yang lebih cepat dan persaingan yang semakin ketat mengubah cara para pengelola perusahaan harus bekerja, menurut presentasi Pfizer Inc. pada konferensi perawatan kesehatan baru-baru ini.

"Inovasi yang biasa-biasa saja atau inovasi bertahap tidak akan dihargai seperti dulu," ungkap kata Albert Bourla, CEO Pfizer Inc. di J.P. Morgan Healthcare Conference.

“Kita perlu memastikan bahwa kita mengubah cara kita beroperasi sehingga kita dapat menghapus proses birokrasi. Inovasi dan birokrasi seperti air dan minyak, keduanya tidak bercampur dengan baik."

Ekonom Bloomberg Economics, Tom Orlik mengatakan pertarungan untuk mengendalikan ekonomi global di abad ke-21 akan dimenangkan oleh kendali atas teknologi inovatif. Unggulnya Korea dan pergeseran peringkat China adalah pengingat bahwa perang dagang AS mungkin memperlambat tetapi tidak akan menghentikan perkambangan teknologi di Asia.

Di antara peringkat di 2019, Tunisia dan Ukraina mencatat kinerja yang paling buruk, keduanya jatuh dari 50 besar. Sepuluh negara baru masuk dalam Indeks Bloomberg pada 2019.

Uni Emirat Arab mencatat debut tertinggi di tempat ke-46. Brazil bergabung kembali di posisi ke-45 setelah tidak mendapat peringkat tahun lalu. Juga di antara para pendatang baru adalah beberapa negara ekonomi berkembang terbesar di dunia seperti India, Meksiko, Vietnam dan Arab Saudi. Adapun Afrika Selatan masih satu-satunya negara Sub-Sahara yang masuk peringkat.

Proses pemeringkatan 2019 dimulai dengan lebih dari 200 negara. Masing-masing diberi skor pada skala 0-100 berdasarkan tujuh kategori yang sama-sama berbobot. Negara-negara yang tidak melaporkan data untuk setidaknya enam kategori dieliminasi, memangkas daftar total menjadi 95. Bloomberg hanya menerbitkan 60 negara teratas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inovasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top