Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Kesiapan Perusahaan Indonesia dalam Menerapkan Industri 4.0

Industri di Indonesia saat ini rata-rata berada pada tahap kesiapan awal dalam memasuki era industri 4.0.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 17 Januari 2019  |  21:24 WIB
Begini Kesiapan Perusahaan Indonesia dalam Menerapkan Industri 4.0
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Industri di Indonesia saat ini rata-rata berada pada tahap kesiapan awal dalam memasuki era industri 4.0. Hasil tersebut dicatatkan dalam penilaian awal oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang akan diperbarui dengan metode asesmen Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (Indi 4.0).

Kepala Badan Pengembangan dan Pelatihan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, menjelaskan pihaknya akan meluncurkan indikator penilaian kesiapan industri dalam menghadapi era 4.0. Metode bernama Indi 4.0 tersebut akan diluncurkan pada 20–21 Maret 2019 di kantor Kemenperin, Jakarta.

Ngakan menjelaskan hasil pengukuran Indi 4.0 akan menjadi patokan dalam mengidentifikasi tantangan serta menentukan strategi dan kebijakan pemerintah dalam mendorong transformasi menuju industri 4.0.

Sebelum meluncurkan program tersebut, Kemenperin telah melakukan penilaian awal kepada sekitar 20 perusahaan dari lima sektor unggulan industri 4.0. Kelima sektor tersebut adalah sektor industri makanan dan minuman, kimia, tekstil dan produk tekstil, serta elektronik.

Ngakan menjelaskan dari penilaian awal tersebut industri rata-rata berada pada level 2, dari keseluruhan 5 level. Level 0 berarti industri belum siap bertransformasi ke industri 4.0, level 1 merupakan tahap kesiapan awal, level 2 tahap kesiapan sedang, level 3 tahap kesiapan matang, dan level 4 berarti industri sudah menerapkan konsep industri 4.0 dalam produksinya.

"Saya identifikasi ada di bawah 10 [perusahaan yang siap menerapkan industri 4.0], antara 5. Ini kan kami asesmennya belum luas ya, kalau diperluas mungkin akan lebih banyak lagi [kondisi industri] yang kami ketahui," ujar Ngakan saat ditemui usai konferensi pers persiapan peluncuran Indi 4.0 di Jakarta, Kamis (17/01/2019).

Dia menjelaskan berdasarkan penilaian awal tersebut sektor industri kimia dan otomotif merupakan sektor terbaik dalam segi persiapan menuju industri 4.0. Hal tersebut menurutnya didasari tingginya otomasi yang telah diterapkan di kedua sektor tersebut.

Beberapa kendala transformasi menuju 4.0 yang ditemukan Kemenperin dalam penilaian awal salah satunya adalah kesiapan sumber daya manusia. Ngakan menilai hal tersebut menjadi perhatian pemerintah sehingga pengembangan SDM dijadikan program prioritas Kemenperin pada 2019.

Kemenperin pun menurutnya telah memiliki 40 orang asesor yang telah dilatih untuk menjadi konsultan industri. Para asesor tersebut nantinya akan diturunkan ke perusahaan-perusahaan sesuai dengan permasalahan yang dikuasai tiap asesor.

"Maret nanti hanya mengumumkan kepada publik, kepada perusahaan, kepada stakeholder, bahwa kami mempunyai tool untuk menilai kesiapan industri. Kemudian memberikan peluang kepada penyedia teknologi dan pengguna teknologi untuk bertemu industri. Karena ada eksibisi juga [dalam peluncuran Indi 4.0]," tambah Ngakan.

Berdasarkan hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme industri dalam menerapkan 4.0, yakni sebesar 78%. Di atas Indonesia terdapat Vietnam (79%), sedangkan di bawah Indonesia terdapat Thailand (72%) dan Singapura (53%).

Managing Partner Indonesia McKinsey & Company, Philia Wibowo, menilai optimisme tersebut merupakan peluang besar bagi Indonesia, meskipun saat ini belum semua industri menerapkan 4.0. Peluang tersebut menurutnya dapat dioptimalkan melalui iklim industri yang menunjang dan sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing.

Philia pun menjelaskan 79% industri di kawasan Asia Tenggara telah memiliki kesadaran akan industri 4.0. Sebanyak 63% industri tercatat terus meningkat optimismenya dalam menerapkan industri 4.0.

Penerapan industri 4.0 sendiri dinilainya sebagai sesuatu yang krusial untuk dilakukan. Berdasarkan riset McKinsey, sektor manufaktur akan mendapat pengaruh terbesar dari penerapan industri 4.0. Sektor tersebut akan mendapat tambahan US$34 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri 4.0
Editor : Maftuh Ihsan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top