Data Beras Versi BPS Dinilai Dekati Kondisi Riil

Revisi data potensi produksi beras tahun ini yang baru dirilis pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai telah mendekati kondisi riil di lapangan.
Pandu Gumilar | 24 Oktober 2018 15:22 WIB
Volume impor beras Indonesia mencapai angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Kendati mekanisme impor sedikit meredam pergolakan harga komoditas pangan paling pokok tersebut di dalam negeri, sejatinya harga beras Indonesia masih jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga beras internasional.

Bisnis.com, JAKARTA – Revisi data potensi produksi beras tahun ini yang baru dirilis pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai telah mendekati kondisi riil di lapangan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Burhanuddin pun menilai data teranyar itu mengafirmasi kondisi riil yang menjawab keresahan para pelaku usaha yang selama ini saling berebut membeli gabah dari petani.

Menurutnya, jumlah sekarang jumlah penggilingan mencapai 182.000 dengan kapasitas giling terpasang mencapai 180 juta ton GKG per tahun atau setara dengan 108 juta ton beras. Jauh lebih besar dibandingkan produksi beras yang berkisar di angka 30 juta ton.

"Akibat rebutan yang paling terkena dampaknya adalah penggilingan padi kecil yang sekarang 40%—60% tidak operasional lagi. Jumlah penggiling kecil itu sekitar 92% atau 170.000 pelaku," katanya, Selasa (24/10/2018).

Penggilingan tersebut biasanya mampu menggiling kurang dari 1,5 ton GKG/jam. Para penggiling hanya bisa memproduksi beras medium yang harga jualnya ditentukan oleh pemerintah sekaligus harus bersaing dengan pemain besar yang memiliki modal kuat.

"Selama tidak diatur oleh pemerintah tentang kemitraan dan belum ada [kerjasama antara penggiling besar dan kecil] akan terus terjadi persaingan kecuali produksi gabah meningkat. Kuncinya di situ," tegasnya.

Tag : produksi beras
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top