Substitusi Minuman Kemasan Meningkat, Pasar Minuman Berenergi Tertekan

Pertumbuhan minuman berenergi dalam beberapa tahun terakhir disebabkan banyaknya substitusi minuman kemasan.
Anggara Pernando | 20 September 2018 18:11 WIB
Minuman berenergi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Pertumbuhan minuman berenergi dalam beberapa tahun terakhir disebabkan banyaknya substitusi minuman kemasan.

Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk., menuturkan saat ini produk minuman siap saji jenis kopi dan teh menyerbu pasaran dari berbagai produsen. Akibatnya pertumbuhan bisnis minuman jenis ini tidak terlalu menggembirakan.

Dia menyebutkan isu kesehatan yang membebani minuman kesehatan tidak relefan karena minuman energi merupakan minuman kesehatan yang baik untuk konsumen yang membutuhkan stamina tambahan.

"Semua produk obat dan makanan harus mendapatkan nomor registrasi dari BPOM untuk memberikan standard kualitas yang baik kepada konsumen," kata Vidjongtius, Kamis (20/9/2018).

Kalbe sendiri memiliki lini khusus minuman energi dan siap saji. Pada lini ini perusahaan memproduksi Extra Joss dan Hydro Coco. Secara keseluruhan Kalbe memiliki lima lini bisnis.

Selain lini minuman energi, perusahaan mengelompokan bisnis menjadi divisi obat resep, divisi obat bebas, divisi nutrisi serta divisi distribusi.

Dia tidak menyebutkan besaran pendapatan dari lini minuman energi, tetapi dalam peresmian manufaktur baru perusahaan di Cikarang beberapa waktu lalu perusahaan menargetkan memperoleh pendapatan yang berimbang dari kelima divisi.

Kalbe sendiri saat ini mengoperasikan 35 anak perusahaan dan 12 fasilitas produksi. Perusahaan juga mempekerjakan 17.000 karyawan di 74 cabang.

Perusahaan juga tengah memacu pemasaran produk di pasar ekspor. Wilayah yang disasar meliputi Asia Tenggara, sebagian Afrika hingga Timur Tengah.

Dia menargetkan penjualan ekspor Rp1 triliun pada 2018. Jumlah tersebut setara dengan 6% dari total pendapatan atau tumbuh 1% dari periode yang sama tahun lalu.

Dengan kenaikan 1% setiap tahunnya, emiten bersandi saham KLBF ini memproyeksikan kontribusi ekspor dapat menembus 10% dalam 5 tahun mendatang.

Tag : industri minuman
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top