Begini Caranya Agar Produsen Minuman Energi Tidak Kalah Saing

Industri minuman energi di Indonesia diingatkan untuk bersaing pada khasiat produk bukan pada harga murah.
Anggara Pernando | 19 September 2018 23:11 WIB
Minuman berenergi - Istimewa

Bisnis.com, SUKABUMI -- Industri minuman energi di Indonesia diingatkan untuk bersaing pada khasiat produk bukan pada harga murah.

Trisno Winata, Chief Operating Officer PT Asia Health Energi Beverages menuturkan pasar Indonesia saat ini cendrung membeli produk minuman dengan memperhatikan harga. Akibatnya produk kemasan cup plastik harus dikenalkan.

"Kami ikut masuk ke pasar cup karena permintaan. Kalau kami sendiri cenderung tidak bikin [namun faktanya] di Indonesia [produsen] berlomba-lomba membuat produk murah. Ini menjadi masalah bagi industri minuman [energi]. Kalau di luar negeri produsen berlomba-lomba memberi nilai [manfaat] lebih. Akibatnya sekarang masyarakat tidak mendapatkan produk berkualitas [terbaik]," kata Trisno, Rabu (19/9/2018).

PT Asia Health Energi Beverages memproduksi minuman berenergi Kratingdaeng dan kemasan cup Torpedo. Perusahaan yang berkantor pusat di Thailand ini memiliki manufaktur di Sukabumi dengan kapasitas 1 juta botol per hari.

Trisno menuturkan saat ini tingkat konsumsi minuman energi di Indonesia relatif rendah di bandingkan negara kawasan. Saat ini dari total penduduk, total konsumsi minuman energi hanya dua hingga tiga kali lipat per tahun.

Sebagai informasi saat ini berdasarkan proyeksi Bappenas mencapai 265 juta jiwa. Artinya konsumsi minuman energi berkisar 530 juta botol hingga 795 juta botol per tahun. Jumlah konsumsi ini terlihat terus menurun setiap tahun.

"Konsumen minuman energi [di Indonesia] rendah sekali. Di Vietnam dan Thailand kita paling kecil, artinya kami belum mendidik pasar dengan benar. Peminum di Indonesia baru 2-3 padahal di luar negeri bisa 10 kali lipat dari jumlah penduduk," katanya.

Dengan kondisi ini, Trisno menyebutkan pihaknya belum berencana untuk menambah modal melalui pasar modal. Pasalnya kebutuhan modal kerja maupun ekspansi masih tercukupi dari perputaran bisnis perusahaan.

"Kami [minuman energi] industrinya tidak berkembang, sehingga tidak membutuhkan mega giant modal. Kalau harus tambah mesin terus tiap tahun maka memang harus masuk [ke pasar modal]," katanya.

Tag : industri minuman
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top