Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tingkat Optimisme Pebisnis Indonesia Tertinggi di Dunia

Laporan Grant Thornton International Business Report (IBR) pada kuartal II/2018 menyatakan optimisme pelaku bisnis Tanah Air juga jauh di atas rata-rata Asean yang sebesar 64% dan Asia Pasifik yang sebesar 55%.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 26 Juli 2018  |  14:35 WIB
Suasana kantor Grant Thornton. - Istimewa
Suasana kantor Grant Thornton. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaku bisnis di Indonesia memiliki tingkat optimisme yang tertinggi di dunia dengan berada di level 98%.

Laporan Grant Thornton International Business Report (IBR) pada kuartal II/2018 menyatakan optimisme pelaku bisnis Tanah Air juga jauh di atas rata-rata Asean yang sebesar 64% dan Asia Pasifik yang sebesar 55%.

"Kenaikan optimisme bisnis di kuartal II/2018 cukup dipengaruhi banyaknya festive season seperti puasa dan Lebaran, yang mempengaruhi tingginya konsumsi masyarakat dan berpengaruh positif terhadap perputaran bisnis berbagai sektor industri," tutur Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Kamis (26/7/2018).

Untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen membangun industri manufaktur berdaya saing global lewat percepatan revolusi industri keempat atau Industri 4.0.

Implementasinya bakal ditopang oleh lima teknologi utama yakni Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface, teknologi robotik, dan sensor serta teknologi pencetakan 3D.

Dia melanjutkan pebisnis di Indonesia bisa memanfaatkan komitmen terseubt untuk menentukan strategi investasi jangka panjang demi menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan. Meski demikian, dampak perang dagang tetap mesti diwaspadai.

Seperti diketahui, tensi perang dagang antara AS dan China masih tinggi. Presiden AS Donald Trump telah menaikkan tarif impor bagi ribuan produk dari China, di antaranya produk teknologi, transportasi, dan medis.

Aksi itu dibalas Beijing dengan menerapkan tambahan bea masuk untuk ratusan produk impor dari AS, termasuk produk pertanian dan mobil.

Hubungan dagang antara AS dengan Uni Eropa (UE) serta sejumlah negara lainnya pun sedang merenggang karena kebijakan tarif impor dari Negeri Paman Sam.

Perang dagang turut melemahkan optimisme pelaku bisnis global. IBR menunjukkan kurangnya optimisme para pemimpin bisnis global terkait prospek ekonomi. Tingkat optimisme melemah menjadi 54% dari 61% pada kuartal sebelumnya.

"Beberapa pihak berpendapat perekonomian global tahun ini mungkin akan sama baiknya dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi pola optimisme bisnis jelas telah berubah setelah tren kenaikan dua tahun terakhir. Saat ini, kita bersiap memasuki fase berikutnya dari siklus ekonomi global, pelaku bisnis dan pembuat kebijakan harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk berbagai skenario," papar Francesca Lagerberg, Global Leader Network Development Grant Thornton.

Pelaku bisnis di AS dan China menunjukkan sikap yang berbeda terkait perang dagang. Optimisme bisnis di AS turun 11% dari kuartal sebelumnya menjadi 78%.

Sebaliknya, pelaku bisnis di Negeri Panda justru memperlihatkan peningkatan tingkat optimisme sebesar 14% menjadi 79%.

Dengan demikian, optimisme bisnis di kedua negara berada di level yang seimbang. Hal ini sekaligus menjadi pertama kalinya bagi pebisnis China untuk memiliki optimisme yang lebih tinggi dibandingkan AS sejak akhir 2012.

Adapun Grant Thornton merupakan perusahaan penyedia jasa audit, perpajakan, dan konsultasi. IBR pertama kali dirilis pada 1992.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iklim usaha perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top