Diversifikasi Pasar Ekspor Digencarkan di Tengah Defisit Perdagangan

Meski dilanda beberapa defisit neraca perdagangan, pemerintah masih optimistis dengan strategi diversivikasi pasarnya.
M. Richard | 22 Juni 2018 19:20 WIB
Infografis nilai ekspor nonmigas Indonesia selama Januari-April 2018. - Bisnis/Tim Artistik

Bisnis.com, JAKARTA – Meski dilanda beberapa defisit neraca perdagangan, pemerintah masih optimistis dengan strategi diversivikasi pasarnya.

"Kita harus tetap optimis, kita berusaha, dan kita punya perluasan ekspor ke negara negara non-tradisional," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda, hari ini Jumat (22/6/2018).

Neraca perdagangan pada Januari defisit US$0,68 miliar, Februari defisit US$0,12 miliar, Maret surplus US$1,09 miliar dan April defisit US$1,63 miliar.

Dia memaparkan, pihaknya sedang melakukan misi dagang dengan beberapa wilayah, seperti Asia Selatan, Eurasia, Afrika Selatan, dan Amerika Selatan.

Ada pun, beberapa negara seperti di Asia Selatan, lanjutnya, negara-negara seperti Pakistan, India, Bangladesh, dan Srilangka.

India adalah negara yang memberi surplus pada neraca perdagangan Indonesia, yakni US$11,84 miliar pada 2017. Komoditas yang diperdagangakan disana adalah crude palm oil (CPO) dan emas.

"Kalau emas itu bahkan mereka mendapatkan dari Swiss, jadi tidak langsung," imbuhnya.

Bangladesh, katanya, adalah negara dengan penduduk cukup besar, yakni sekitar 150 juta. Sehingga membuat pasar ini cukup potensial jika dikembangakan.

Bahkan, setiap komoditas yang diperdagangakan ke Pakistan selalu laku, contohnya kopi, teh, rempah-rempah dan bahkan bus dan lokomotif.

"Bus kita dibeli oleh mereka sebanyak 1.034 unit bus, jadi per bus itu harganya sekitar US$1,9 miliar," katanya.

Sementara itu, di Pakistan komoditas yang banyak diminati ialah CPO dan kopi. Untuk negara Afrika, Arlinda menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan kunjungan ke Kenya.

Ada pun, untuk pasar Afrika yang telah dijajaki adalah Nigeria. "Nah negara ini sebebnarnya jauh dari yang kiga bilang antah berantah, sebenarnya mereka itu luar biasa," imbuhnya.

 

Untuk Amerika Selatan, dia menjelaskan, pihaknya baru melakukan misi dagang ke Chili, yang mana negara tersebut diharapkan sebagai hub untuk memperluas basis pasar non tradisional Indonesia.

 

Sebelumnya, Indonesia juga berencana untuk melakukan perjanjian dagang dengan Brazil dalam rangka impor daging sapi.

Tag : Neraca Perdagangan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top