Alih Fungsi Hutan Kerek Risiko Penyakit Zoonosis

Alih fungsi lahan hutan menjadi permukiman dan perkebunan meningkatkan risiko kemunculan penyakit zoonosis. Berada di posisi kedua sebagai negara dengan kekayaan hayati dan keanekaragaman jenis fauna di dunia, Indonesia rentan terhadap ancaman zoonosis.
Sri Mas Sari | 07 Juni 2018 20:32 WIB
Hutan pinus di Kabupaten Dlingo, Yogyakarta. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Alih fungsi lahan hutan menjadi permukiman dan perkebunan meningkatkan risiko kemunculan penyakit zoonosis. Berada di posisi kedua sebagai negara dengan kekayaan hayati dan keanekaragaman jenis fauna di dunia, Indonesia rentan terhadap ancaman zoonosis.

"[Akibat alih fungsi], interaksi antara satwa liar dengan manusia serta ternak akan semakin tinggi. Reservoir penyakit zoonosis paling tinggi ada di satwa liar, seperti burung migran, kelelawar, monyet ekor panjang, dan tikus,” kata Kasubdit Keamanan Hayati Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Lu’lu Agustina, Kamis (7/6/2018).

Perilaku manusia dan faktor demografi, lanjut dia, juga dapat memengaruhi epidemiologi zoonosis yang berasal dari satwa liar. Berburu dan mengonsumsi daging satwa liar dapat meningkatkan risiko tertular penyakit zoonosis.

KLHK mencatat, selama 11 tahun terakhir, 167 orang di Indonesia meninggal karena flu burung dari 199 orang yang tertular virus H5N1 di 15 provinsi dan 58 kabupaten/kota. Sementara di India, hingga Mei 2018, sedikitnya 13 orang meninggal dunia di negara bagian Kerala akibat terinfeksi virus Nipah.

Kedua zoonosis termasuk penyakit infeksi emerging (PIE), atau penyakit yang sebelumnya tidak ditemukan pada manusia, atau sudah lama tak ditemukan, tetapi kemudian muncul kembali. Virus Nipah bahkan memiliki tingkat kematian hingga 70% dan dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak, serta gangguan serius pada sistem pernafasan.

Penyakit infeksi emerging yang pernah mewabah di dunia dan memiliki tingkat kematian yang tinggi a.l. severe acute respiratory syndrome (SARS) pada 2003, diikuti oleh avian influenza atau flu burung pada 2004-2005 (440 kematian), middle east respiratory syndrome-corona virus (787 kematian) pada 2012, Ebola pada 2014-2016 (11.310 kematian), dan Zika di pengujung 2015.

“Kesehatan lingkungan berpengaruh pada kesehatan manusia dan hewan khususnya satwa liar. Data WHO menyebutkan setiap tahun lebih dari 12 juta orang meninggal di seluruh dunia karena lingkungan yang tidak sehat,” kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra Eksploitasia.

Untuk meningkatkan kapasitas pemerintah dalam mencegah dan mengurangi dampak PIE dan zoonosis, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) melalui program Emerging Pandemic Threats (EPT) 2 yang menerapkan pendekatan One Health.

Pendekatan One Health merupakan upaya terintegrasi dari lintas disiplin ilmu dan institusi yang dilaksanakan di tingkat lokal, nasional, maupun global, untuk mencapai kesehatan masyarakat, hewan dan lingkungan, yang optimal.

Program EPT2 menerapkan pendekatan One Health melalui kegiatan peningkatan kapasitas, penguatan sistem surveilans, riset, penerapan panduan koordinasi lintas sektor, dan penanganan kasus bersama.

Salah satu daerah yang menerapkan pendekatan ini adalah Boyolali, Jawa Tengah, yang menangani 22 kasus dugaan rabies yang disebabkan gigitan anjing dan monyet ekor Panjang (Macaca Fascicularis) pada Januari-Oktober 2017.

Tag : alih fungsi lahan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top