Rupiah Melemah, Farmasi Terpukul

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat paling berdampak pada industri yang berbahan baku impor, tetapi produknya dijual di pasar domestik.
Annisa Sulistyo Rini | 23 Mei 2018 18:28 WIB
Ilustrasi obat. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA—Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat paling berdampak pada industri yang berbahan baku impor, tetapi produknya dijual di pasar domestik.

Salah satu industri tersebut adalah farmasi yang lebih dari 90% bahan bakunya berasal dari luar negeri. 

"Farmasi itu bahan baku sebagian besar impor, dijualnya rupiah. Oleh karena itu, Kemenperin sedang berbicara soal local content untuk farmasi. Semakin banyak konten lokal, sangat membantu daya saing," katanya di Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Saat ini, Kemenperin bersama Kementerian Kesehatan masih terus menggodok aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Aturan ini ditargetkan bisa diterbitkan pada 2018.

Terkait dengan ketergantungan bahan baku impor, Airlangga menuturkan industri farmasi masih banyak mengimpor bahan baku karena terkait dengan hak kekayaan intelektual. Selain itu, untuk biochemical juga masih terkendala masalah sampel yang tidak mudah untuk diimpor. 

Sebelumnya, Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, mengatakan aturan TKDN farmasi akan mengatur metode penghitungan yang berbeda dengan cara hitungan yang sudah ada.

Karena bahan baku masih didominasi oleh produk impor, Sigit menyebutkan TKDN rata-rata untuk produk farmasi dalam negeri sebesar 20%. Aturan TKDN ini juga diharapkan akan menarik lebih banyak investasi bahan baku farmasi ke Indonesia.

Saat ini, Kemenperin terus mendorong investasi di sektor hulu untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Selain itu, investasi industri hulu juga bisa menambah devisa negara dengan mengekspor produk yang dihasilkan. 

Terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius mengatakan perusahaan farmasi harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan margin. Apalagi, produsen farmasi harus bersaing ketat supaya bisa masuk ke k-catalog dalam memasok obat untuk program pemerintah.

Dia menggambarkan depresiasi rupiah sebesar 1% dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi sebesar 0,35%. Namun, produsen tidak dapat serta merta menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat belum menguat.

"Kami lakukan product mix, misalnya obat resep marginnya lebih tinggi dibandingkan dengan obat bebas. Kalau penjualan obat resep lebih tinggi, penurunan rupiah bisa terkompensasi," jelasnya. 

Tag : farmasi
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top