Cuaca Penerbangan: Waspadai Kebakaran Hutan, Asap bisa Ganggu Penerbangan

Pemangku kepentingan penerbangan diminta waspada jelang pergantian musim penghujan menuju kemarau.
Rio Sandy Pradana | 19 April 2018 13:39 WIB
Teknisi Helikopter MI 171 milik BNPB memeriksa mesin Helikopter MI 171 di Base Off Landasan Udara TNI AU Palembang yang diselimuti kabut asap, Sumatera Selatan, Kamis (27/8/2015). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA—Pemangku kepentingan penerbangan diminta waspada jelang pergantian musim penghujan menuju kemarau.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan pergantian musim berisiko menyebabkan kejadian yang rentan mempengaruhi operasional penerbangan seperti hujan es, angin puting beliung, serta kebakaran hutan dan lahan.

Adapun, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan peralihan musim dari penghujan menuju ke musim kemarau tahun ini akan berlangsung pada April- Mei.

"Pada musim kemarau, keadaan cuaca memang tidak akan ekstrem seperti pada musim penghujan. Namun, seperti diprediksi oleh BMKG, pada masa peralihan dan musim kemarau masih ada gejala alam yang bisa mengganggu penerbangan," kata Agus, Kamis (19/4/2018).

Menurutnya, prediksi BMKG yang sudah soal perubahan cuaca dan musim lebih awal mampu memberikan peringatan sehingga penerbangan nasional bisa lebih waspada.

Dia meminta para stakeholder penerbangan baik regulator seperti otoritas bandar udara dan operator penerbangan seperti maskapai, pengelola bandara, dan AirNav agar selalu waspada dan sigap melakukan tugas sesuai prosedur standar operasi yang sudah ditetapkan.

Para stakeholder, lanjutnya, harus selalu berkoordinasi dan bekerja sama, serta tidak memaksakan untuk melakukan penerbangan jika keadaan tidak memungkinkan. Adapun, misalnya saat kondisi jarak pandang terganggu oleh kabut asap, maka pesawat harus menunggu sampai cuaca cerah sesuai standar operasi yang diperbolehkan.

Di sisi lain, imbuhnya, penumpang juga diminta untuk bersabar jika memang terjadi hal-hal yang mengganggu sehingga penerbangan harus ditunda (delay) karena faktor alam tersebut.

"Faktor alam tidak bisa kita lawan. Kami mengharapkan kerjas ama semua penumpang untuk menghindari hal-hal negatif yang merugikan semua pihak," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Cuaca Penerbangan

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top