Kelompok Tani Pisang Lampung Nikmati Fasilitas Kawasan Berikat

Kelompok tani pisang mas di Tanggamus, Lampung Timur menjadi penerima pertama fasilitas Sub-Kontrak Kawasan Berikat yang diberikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 27 Maret 2018  |  21:04 WIB

Bisnis.com, DENPASAR--Kelompok tani pisang mas di Tanggamus, Lampung Timur menjadi penerima pertama fasilitas Sub-Kontrak Kawasan Berikat yang diberikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Government Relations and External Affair Director PT Great Giant Pineapple (GGP) Welly Soegiono mengatakan kelompok tani tersebut merupakan binaan PT GGP yang merupakan produsen serta eksportir nanas dan pisang, yang melakukan usahanya secara terintegrasi.

“Kelompok tani binaan kami akan menjadi kelompok tani pertama pemanfaat fasilitas sub-kontrak kawasan berikat Bea Cukai,” katanya, seperti dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Selasa (27/3/2018).

Sebelum ada fasilitasi dari Bea Cukai, petani sulit memperoleh pupuk yang berkualitas. Selain itu harga pupuk bersubsidi juga mahal, apalagi jika dibandingkan dengan harga pupuk impor, selisihnya bisa sampai berkali-kali lipat.

Kata Welly produk PT GGP adalah komoditi pertanian hortikultura, faktor penentuan biaya produksi yang lebih efisien menjadi tantangan untuk dapat bersaing dalam pasar internasional. Karena komoditas ini 80% diekspor ke wilayah Amerika Utara dan Eropa, maka peta persaingan produk pertanian hortikultura memang sangat ketat.

Bahkan sebelum PT GGP menerima fasilitas Kawasan Berikat Bea Cukai, keberadaannya belum diperhitungkan oleh pasar internasional. Tetapi, setelah memperoleh fasilitas ini pada 2005, perusahaan mulai dapat berkompetisi, khususnya di pasar ekspor.

“Itu sebabnya sejak tahun 2015, GGP berhasil menjadi produsen nanas kaleng terbesar ke-3 di dunia. Bahkan dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2017, GGP menjadi produsen nanas kaleng terbesar ke-2 di dunia,” ujarnya.

Dengan luas lahan 33 ribu hektare, dalam setahun kami mampu memproduksi lebih dari 12 ribu kontainer nanas kaleng dan 10 juta box buah-buahan segar berupa pisang, nanas, jambu kristal, dan buah-buahan segar lainnya. Hampir 100% produk nanas kaleng kami diekspor, dengan nilai ekspor setiap tahunnya mencapai ratusan juta dollar Amerika.

Welly menjelaskan sejak 2016 menjalin kerja sama kemitraan petani di wilayah Tanggamus dengan membuat plot percontohan (demonstration plot/demplot) di areal 0,5 hektare untuk menanam pisang mas. Dua tahun kemudian, kerjasama dengan petani sudah berkembang menjadi 300 hektar lahan penanaman pisang mas.

“Itu sebabnya sejak akhir tahun 2017, produk pisang mas petani sudah bisa diekspor ke Malaysia dan Singapura, dengan rata-rata jumlah ekspor satu kontainer setiap pekan,” kata Welly yang akan menjelaskan program ini di hadapan Presiden Joko Widodo saat kunjungan di Lampung.

Dalam kerja sama ini, PT GGP memberikan bibit, panduan budi daya tanam, dan supervisi kepada petani. Saat ini perusahaan juga mengembangkan sistem aplikasi bernama e-Grower, yang salah satunya berfungsi untuk mempermudah komunikasi antara perusahaan, melalui para supervisor lapangan, dengan koperasi, kelompok tani, dan para petani yang tergabung dalam kerjasama.

Selain berisi panduan budidaya tanam, dalam aplikasi tersebut diberikan juga panduan berisi operasi standard manual yang harus dilakukan para petani setiap harinya, sebagai sistem kerja yang mengikat perusahaan melalui gabungan kelompok tani (gapoktan), termasuk juga koperasi yang menampung hasil tanaman para petani.

Sistem eGrower juga berfungsi sebagai sistem yang dapat dipakai Bea Cukai dalam mengawasi pergerakan barang dari Kawasan Berikat GGP ke sub-kontrak Kawasan Berikat di lahan petani, hingga pergerakan hasil produksi, baik yang dijual di pasar lokal maupun untuk keperluan ekspor dapat dimonitor.

Melalui pola kemitraan ini, GGP tidak hanya bertindak sebagai off-taker, namun juga melakukan pendampingan bagi petani mulai dari penanaman, perawatan, panen, hingga pengepakan, serta mendistribusikan produk ke pasar-pasar yang menjadi andalan GGP, untuk produk pisang mas, pisang barangan, dan pisang raja buluh.

Selain memperoleh benefit pembebasan bea masuk untuk material-material seperti pupuk dan herbisida yang umumnya diimpor dari negara lain, pada akhirnya negara akan menikmati perolehan devisa yang lebih besar, sebagai dampak meningkatnya produk ekspor setelah fasilitas ini diberlakukan.

"Kami memproyeksikan hingga 2020 luasan produksi dari program ini bisa mencapai lebih dari 1.000 ha. Saat ini cakupan area seluruhnya berada di Provinsi Lampung dengan PT GGP sebagai basis ekologis, sebagai mitra petani dalam pengelolaan lahan produksi," kata Welly.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bea Cukai, petani, kawasan berikat

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top