Penguatan Tajam Dolar AS Ganggu Industri Manufaktur

produsen yang berorientasi ekspor melaporkan kompetisi yang sangat ketat di pasar global dan negosiasi harga yang panjang dengan pembeli sebagai faktor penyebab penurunan order ekspor.
Demis Rizky Gosta | 02 Desember 2016 00:43 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Penguatan tajam dolar Amerika Serikat mengganggu aktivitas produksi industri manufaktur menjelang akhir tahun.

Ekonom Markit, Pollyanna de Lima, mengatakan penguatan dolar Amerika Serikat bisa memaksa pelaku industri manufaktur Indonesia menekan margin penjualan.

Penguatan dolar AS, jelasnya, mengerek harga bahan baku dan meningkatkan biaya produksi industri. Namun, permintaan yang masih lemah membuat produsen sulit menaikkan harga.

“Rupiah yang melemah membuat biaya produksi semakin tinggi dan mendongkrak harga beberapa produk. Jelang akhir tahun, produsen tampaknya harus bersiap melonggarkan kebijakan harga mereka supaya bisa mendapatkan lebih banyak pesanan,” kata de Lima dalam rilis Markit Economics, Kamis (1/12/2016).

Nikkei Indonesia Manufacturing PMI naik dari level 48,7 pada Oktober ke level 49,7 pada November. Indeks manufaktur yang dalam dua bulan terakhir berada di bawah level 50 mengindikasikan penurunan aktivitas bisnis di industri sektor manufaktur.

Produksi industri manufaktur kembali merosot pada November meskipun tidak setajam penurunan pada Oktober. Sebanyak 18% dari manajer yang disurvei Markit menyatakan penurunan produksi di pabrik mereka dibandingkan dengan 16% yang melaporkan kenaikan produksi.

Produksi turun tertekan penurunan order dari dalam dan luar negeri. Beberapa responden yang disurvei Markit menyatakan permintaan domestik turun akibat penurunan daya beli di pasar domestik dan global.

Selain penurunan daya beli, produsen yang berorientasi ekspor juga melaporkan kompetisi yang sangat ketat di pasar global dan negosiasi harga yang panjang dengan pembeli sebagai faktor penyebab penurunan order ekspor.

Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia (IPF) Henky Wibawa juga menjadikan kelesuan perekonomian global sebagai faktor utama penurunan permintaan pada kuartal IV/2016.

Dia mengatakan tekanan dari kelesuan ekonomi dunia akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi China diperparah dengan sentimen politik dari Amerika Serikat yang mendongkrak nilai tukar dolar AS.

Pergerakan nilai tukar membuat harga bahan baku plastik bergejolak dan menyebabkan mayoritas pelaku industri ragu-ragu mengambil keputusan bisnis.

“Dampak paling besar datang dari perkonomian dunia yang berpengaruh terhadap nilai tukar. Ini membuat harga impor bahan baku naik, pengaruhnya besar pada industri pengemasan plastik,” kata Henky.

Indeks harga bahan baku Markit menunjukkan tingkat kenaikan harga komponen produksi pada November merupakan yang paling tajam sejak Agustus. Kenaikan harga terjadi pada bahan baku logam, kimia, plastik, tekstil, dan kertas.

Markit juga melaporkan penurunan stok bahan baku pada November akibat keterlambatan pengiriman bahan baku. Faktor hujan dan banjir di beberapa tempat membuat indeks pengiriman bahan baku dari pemasok naik tajam pada November.

Direktur Operasional PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) Septiastuti Hapsari mengatakan permasalahan pasokan bahan baku dialami oleh produsen menara yang tengah mengerjakan proyek transmisi PT PLN (Persero).

DIa menjelaskan pengiriman beberapa jenis baja siku tersendat dan membuat aktivitas produksi menara terlambat dari jadwal.

“Saya rasa bukan karena cuaca. Mungkin ada faktor harga baja yang merangkak naik jadi produsen menunda pengiriman, apalagi billet baja masih impor,” kata Hapsari.

Tag : manufaktur, indeks manufaktur
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top