Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Truk Justru Menolak Harga Solar Diturunkan

Asosiasi Pengusaha Truck Indonesia (Aptrindo) menolak keputusan pemerintah menurunkan harga solar sebesar Rp200 per liter atau turun 3,1%.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Februari 2015  |  17:20 WIB
ANTREAN TRUK DI MERAK  Sejumlah truk yang akan menyebrang ke Sumatera memadati area parkir Dermaga I sampai Dermaga V saat akan memasuk kapal roro di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Jumat (31 - 1). Penumpukan terjadi karena dari 43 kapal roro yang biasa beroperasi hanya 19 yang bisa berlayar sedang sisanya mogok serta doking untuk perbaikan rutin.
ANTREAN TRUK DI MERAK Sejumlah truk yang akan menyebrang ke Sumatera memadati area parkir Dermaga I sampai Dermaga V saat akan memasuk kapal roro di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Jumat (31 - 1). Penumpukan terjadi karena dari 43 kapal roro yang biasa beroperasi hanya 19 yang bisa berlayar sedang sisanya mogok serta doking untuk perbaikan rutin.

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Pengusaha Truck Indonesia (Aptrindo) menolak keputusan pemerintah menurunkan harga solar sebesar Rp200 per liter atau turun 3,1%.

Sugi Purnoto Wakil Ketua II Aptrindo menilai penurunan harga solar ini justru merugikan pengusaha angkutan truk. “Tidak ada benefit apapun, yang ada justru kerugian,” tegasnya seperti dikutip Bisnis.com, Minggu (15/2/2015).

Menurut Sugi, pengusaha angkutan truk tidak bisa serta merta menurunkan uang jalan atau biaya operasional kepada supir.

Selain itu, pengusaha angkutan truk kesulitan menerima permintaan penurunan biaya transportasi dari pelanggan. Padahal, kata Sugi, negosiasi tarif transportasi akibat penurunan harga solar belum selesai sepenuhnya.

“Jika penurunan ini tetap dilakukan, maka dampaknya akan negative kepada kelangsungan usaha trucking di Indonesia,” jelasnya.

Sugi menyarankan agar pemerintah tetap menahan di level harga Rp6.400 dalam kurun waktu minimal tiga bulan mendatang untuk menjamin bisnis angkutan truk.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Hanafi mengatakan industri transportasi truk barang terkena imbas berat karena penurunan harga solar ini bertepatan dengan enam faktor lain.

Keenam faktor tersebut antara lain, pelemahan rupiah, PPnBM untuk spareparts, penyesuaian upah minimum, kenaikan tarif tol, suku bunga bank, inflasi dan kenaikan listrik.

Yukki menyarankan kepada pemerintah untuk memberikan kemudahan fiskal, seperti penurunan PPnBM bagispare parts angkutan produksi untuk mengurangi beban pengusaha.

“Kami sudah usulkan kemudahan fiskal ini sejak setahun lalu….Hanya Indonesia saja yang negara di Asean yang dikenakan bea masuk untuk spare parts alat berat, termasuk kendaraan produksi,” katanya, Jumat (13/2/2015).

Seperti diketahui, pemerintah akan menurunkan harga bahan bakar minyak jenis solar bersubsidi mulai 15 Februari 2015.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Teguh Pamudji mengatakan pemerintah akan menurunkan harga solar dari Rp6.400 per liter menjadi Rp6.200 pada 15 Februari 2015.

Kesepakatan terkait penurunan harga solar disahkan dalam rapat kerja Komisi VII DPR dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada awal Februari (3/2/2015).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan pemerintah ingin menjaga harga solar stabil di level Rp6.400 per liter dengan alasan mengurangi kerepotan penentuan harga logistik. “Kami dalam posisi cenderung tidak mengubah-ubah harga dulu,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga BBM solar angkutan logistik
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top