Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini 5 Kendala Ekspor Produk Alas Kaki Indonesia

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menargetkan nilai ekspor yang kurang lebih sama dengan tahun lalu sebesar 4 miliar dolar AS pada 2015, karena situasi pasar yang kurang bagus, baik di dunia maupun di Indonesia.
Muhammad Avisena
Muhammad Avisena - Bisnis.com 12 Januari 2015  |  16:18 WIB
Sepatu - examiner.com
Sepatu - examiner.com

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menargetkan nilai ekspor yang kurang lebih sama dengan tahun lalu sebesar 4 miliar dolar AS pada 2015, karena situasi pasar yang kurang bagus, baik di dunia maupun di Indonesia.

Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko menyebut meski sudah memiliki pasar ekspor yang cukup luas, market share ekspor alas kaki dari Indonesia masih kecil, di angka 2%. Setidaknya ada lima kendala yang dihadapi para pelaku industri.

Pertama, masih adanya ketidakpastian soal kenaikan upah minimum baik untuk regional maupun kota/kabupaten (UMR dan UMK).

Seharusnya pembahasan upah minimum dilakukan dua tahun sekali. Sehingga pengusaha bisa berhitung dan menghilangkan ketakutan para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

“Semua investor yang mau masuk di Indonesia kendalanya cuma satu, UMRnya tidak bisa dikontrol,” katanya.

Kedua, kemudahan impor bahan baku, karena industri pendukung untuk bahan baku tidak berkembang di Indonesia. Untuk perusahaan besar, penggunaan bahan baku impor bisa mencapai 50%.

Seharusnya pemerintah memberikan insentif agar industri hulu bisa berkembang.

Ketiga, mengenai perpajakan. Pemerintah seharusnya mencari wajib pajak yang belum terdaftar.  Tidak hanya pengusaha yang selalu menjadi target. Investor akhirnya enggan masuk, karena merasa diperas habis-habisan.

Keempat, soal infrastruktur yang saat ini tidak ada kepastian. Akses ke pelabuhan-pelabuhan masih  menjadi kendala. Proses pengiriman masih memakan waktu yang lama. Contohnya seperti solar, yang seharusnya harga untuk industri lebih murah daripada harga retail ke masyarakat.

Kelima, soal relokasi. Para pengusaha yang akan melakukan relokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih terkendala karena tidak tersedianya kawasan industri di dua provinsi tersebut.

Akibatnya perusahaan harus melakukan relokasi di non-kawasan industri yang izinnya lebih susah dan biayanya lebih mahal. Sekitar 30-40% pengusaha alas kaki merencanakan relokasi industri. (Bisnis.com)

BACA JUGA:

GOLDEN  GLOBE 2015: "Boyhood" Film Drama Terbaik

Hebat, Robot Bayi Smiby Hilangkan Kesepian Lansia

WAGUB DJAROT: Pejabat Pakai Narkoba Dicopot & Terancam Dipecat

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor sepatu

Sumber : Bisnis.com

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top