RNI Terbang Tinggi, Ismed Tak Ingin Rugi

Bagi Ismed, ulang tahun kali ini merupakan masa yang monumental karena setelah memimpin BUMN tersebut selama 3,5 tahun, banyak hal yang sudah dilakukan. "Meskipun tahun ini masih rugi, saya yakin tahun depan akan untung."
Lahyanto Nadie
Lahyanto Nadie - Bisnis.com 23 Desember 2014  |  15:25 WIB
RNI Terbang Tinggi, Ismed Tak Ingin Rugi
Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia Ismed Hasan Putro - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Transformasi RNI Terbang Tinggi, itulah judul buku untuk memperingati 50 Tahun RNI mengabdi bagi negeri, yang diluncurkan hari ini hari ini (Selasa, 23 Desember 2014).

Guru Besar FE UI Firmanzah, pengamat politik Fachri Ali, dan Dewan Pengurus Center for  Corporate Leadership Nani Bermawi menjadi pembicara dalam bedah buku itu, yang dipandu Tjahya Gunawan dari Kompas. 

Hadir dalam peluncuran buku Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Menteri Perindustrian Saleh Husin. Sejumlah tokoh turut hadir di antaranya Setiawan Djody, Sutrisno Bachir, Aksa Mahmud dan para eksekutif perusahaan.

RNI adalah sebuah perusahaan agro industri, farmasi & alat kesehatan dan perdagangan. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) tidak lepas dari nama sebuah perusahaan perdagangan hasil bumi yang didirikan oleh Oei Tjien Sien dengan nama NV Handel My Kian Gwan bertempat di Semarang, Jawa Tengah pada 1 Maret 1863.

Perkembangan selanjutnya perusahaan tersebut diturunkan kepada putranya bernama Oei Tiong Ham. Di tangan putranya ini perusahaan terus berkembang menjadi perusahaan holding. Bidang usahanya meliputi perdagangan, industri gula, perkebunan karet, industri farmasi, jasa keuangan dan properti.

Kini, BUMN itu di bawah komando Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro. Sebagai mantan wartawan, Ismed punya gaya tersendiri dalam mengelola perusahaan milik pemerintah. Begitu pun dalam merayakan ulang tahun setengah abadnya.

Ismed mengatakan bahwa sebagai persembahan ulang tahun ke-50 PT Rajawali Nusantara Indonesia yang jatuh pada 12 Oktober lalu, ia memilih acara yang produktif yaitu menerbitkan buku. 

Bagi Ismed, ulang tahun kali ini merupakan masa yang monumental karena setelah memimpin BUMN tersebut selama 3,5 tahun, banyak hal yang sudah dilakukan. "Meskipun tahun ini masih rugi, saya yakin tahun depan akan untung," katanya.

Mengapa rugi? Ya, karena kebijakan pemerintah belum berpihak kepada petani gula. Kondisi ini gara-gara pada pemerintahan sebelumnya membebaskan impor gula rafinasi yang membuat harga gula petani jatuh. "Petani menangis. Saya pun menangis. Siapa yang tak sedih  melihat petani kita menangis," kata Ismed kepada Bisnis di kantornya belum lama ini.

Ia optimistis akan meraih keuntungan karena pengembangan dan Arah RNI ke depan adalah menjadi BUMN yang berdaya saing global, terutama di bidang industri agro, farmasi & alat kesehatan, perdagangan & distribusi, serta properti.

Itulah sebabnya RNI akan memberi kontribusi yang optimal kepada negara dan stakeholders karena memiliki struktur keuangan yang sehat dan kondisi operasional yang kuat.

Harapan Ismed lainnya adalah RNI menjadi instrumen pelaksanaan public policy yang andal. Untuk mencapai hal tersebut PT RNI melalui Divisi Pengembangan berupaya melakukan strategi generik maupun strategi inovasi.

Itulah komitmen Ismed. Ia ingin mengelola BUMN itu berdasarkan prinsip-prinsip good corporate governane yang terhindar dari korupsi. Makanya ia geregetan ketika impor gula ravinasi membanjiri pasar lokal yang membuat petani menangis.

Presiden Joko Widodo pernah berjanji untuk menyetop keran impor gula rafinasi. Itu dikatakan ketika mendengar keluhan para petani tebu ihwal gula petani yang tidak laku dilelang serta anjloknya harga gula dalam acara Jagongan Petani di Jember, 7 Oktober 2014. Kini kita tunggu janji presiden untuk menghentikan tangis petani. Ismed pun tidak menangis lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rni, gula rafinasi

Editor : Lahyanto Nadie

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top