Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Premium Supermarket: Sejumlah Peritel Bidik Konsumen Kelas Menengah

Sejumlah pelaku usaha ritel Indonesia semakin gencar membuka gerai premium supermarket. Mereka tak hanya menyasar konsumen kelas menengah di Pulau Jawa, tetapi juga beberapa kota di Sumatra dan Kalimantan.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 28 Agustus 2014  |  18:47 WIB
Ilustrasi - mataharigroup.co.id
Ilustrasi - mataharigroup.co.id

Bisnis.com, JAKARTA -- Sejumlah pelaku usaha ritel Indonesia semakin gencar membuka gerai premium supermarket. Mereka tak hanya menyasar konsumen kelas menengah di Pulau Jawa, tetapi juga beberapa kota di Sumatra dan Kalimantan.

Contoh terbaru, PT Mega Mahadana Hadiya (Mahadya) membuka premium supermarket bernama LOKA di Tangerang, Jawa Barat. 

Irzan H. Pulungan, President Director PT Mega Mahadana Hadiya (Mahadya) mengatakan, alasan perseroan membuat konsep premium supermarket merek LOKA lantaran pesatnya pertumbuhan kelas menengah di Indonesia.  

“Meskipun sudah ada peritel menawarkan premium supermarket, kue [keuntungan] yang bisa digarap sangat besar. Sekarang tinggal bagaimana kami memberikan layanan dan produk sesuai kebutuhan konsumen kelas menengah dan atas,” ujarnya kala ditemui di sela-sela peresmian gerai LOKA di kawasan Alam Sutra, Tangerang, Jawa Barat, Rabu (27/8/2014).

Mahadya menargetkan membuka 5 gerai baru di Jakarta, Semarang, Kalimantan, dan Banjarmasin.

Sebelumnya, anak perusahaan Tiara Marga Trakindo (TMT) ini sudah membuka gerai pertama LOKA di Malang, Jawa Timur.

Menurutnya, peningkatan kelas menengah di luar Pulau Jawa cukup signifikan. Namun, opsi toko ritel modern dan supermarket di wilayah tersebut masih terbatas.

Lebih lanjut, Chief Operation Officer FMCG Retail Mahadaya Surja Dharma mengatakan nilai investai premium supermarket LOKA bervarasi.

Pihaknya  membutuhkan lahan dengan luas 2.000m2—3.500m2 untuk membangun gerai.

“Nilai investasi tergantung dengan luasan area. Investasi satu gerai berkisar Rp15 miliar—Rp20 miliar,” kata Surja.

Sementara itu, PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) melalui unit usahanya Matahari Food Business (MFB), yang juga mengelola Hypermart, turut memeriahkan persaingan di sektor premium supermarket.

Mengusung merek Foodmart Gourmet, MPPA kini sudah memiliki 10 gerai Foodmart Gourmet.

Sebelumnya, Direktur Format Supermarket Emi Nuel mengatakan premium supermarket berbeda dengan Hypermart yang mengusung konsep toko diskon (discount store). 

Premium supermarket tak menonjolkan selisih harga sebagai daya tarik melainkan menekankan pada produk dan layanan berkualitas tinggi.

“Kelas menengah tidak lagi peduli dengan harga barang yang dijual toko. Mereka justru mencari produk-produk berkualitas, penataan toko yang nyaman, dan layanan prima. Lebih dari sekedar super,” tutur Emi Nuel.

Menurutnya, perseroan membidik area apartemen dan kawasan perkantoran, khususnya di Jakarta dan sekitarnya.

Namun, dia tak menampik akan menambah gerai baru di Surabaya, Bali, Makassar, dan Medan hingga akhir tahun 2014.

Emi Nuel mengatakan premium supermarket memberi kontribusi sekitar 9% dari total bisnis MPPA.

Jumlah ini diprediksi meningkat seiring dengan pembukaan gerai-gerai baru.

“Nilai investasi untuk membuka satu Foodmart Gourmet rata-rata Rp7 miliar, tergantung luas lahan. Luasan lahan yang dibutuhkan tidak kurang dari 800m2,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

supermarket ritel modern
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top