Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Industri Petrokimia Rendah, Sulit Topang Ekonomi

Ketua Umum Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik (Inaplas) Amir Sambodo mengatakan pertumbuhan industri petrokimia saat ini masih minim yakni hanya 6,5%.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 12 Maret 2014  |  04:41 WIB
Pertumbuhan Industri Petrokimia Rendah, Sulit Topang Ekonomi

Bisnis.com, JAKARTA- Ketua Umum Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik (Inaplas) Amir Sambodo mengatakan pertumbuhan industri petrokimia saat ini masih minim yakni hanya 6,5%.

Seharusnya, menurut dia, pertumbuhan industri petrokimia minimal 3% di atas pertumbuhan ekonomi. Pada 2013, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,7%, sementara pertumbuhan industri petrokimia hanya 6,5%.

”Dulu itu, pertumbuhan industri petrokimia bisa mencapai 12%,” kata Amir di sela-sela acara Konferensi Nasional Inaplas di Jakarta, Selasa (11/3/2014).

Dengan perputaran bisnis yang mencapai US$8 miliar-US$12 miliar, margin atau keuntungan industri petrokimia secara rata-rata mencapai 10%-12%.

Menurutnya, keuntungan industri petrokimia hilir masih bisa mencapai 20%, sedangkan industri hulu masih di bawah industri hilir.

Direktur Industri Kimia Dasar Kementerian Perindustrian M. Khayam mengatakan pemerintah fokus untuk menyelesaikan masalah defisit impor petrokimia.

Berdasarkan data Kemenperin, sepanjang 2013, impor petrokimia (seluruh kelompok petrokimia) Indonesia mencapai US$16 miliar, sedangkan ekspor US$6 miliar.

Dengan demikian ada defisit hingga US$10 miliar. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, angka ini menunjukkan kenaikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia
Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top