Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Sulit, Produksi Petrokimia Indonesia Kalah Jauh dari Thailand

Wakil Ketua Umum Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas) Suhat Miyarso mengatakan meski minat investasi di dalam negeri masih tinggi, kemudahan yang diberikan pemerintah Indonesia tidak maksimal bila dibandingkan dengan Thailand.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 11 Maret 2014  |  23:43 WIB
Investasi Sulit, Produksi Petrokimia Indonesia Kalah Jauh dari Thailand
Aktivitas di pabrik Chandra Asri Cilegon - Antara

Bisnis.com, JAKARTA- Wakil Ketua Umum Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas) Suhat Miyarso mengatakan meski minat investasi di dalam negeri masih tinggi, kemudahan yang diberikan pemerintah Indonesia tidak maksimal bila dibandingkan dengan Thailand. Hal itulah yang membuat produksi Indonesia kalah dengan Thailand.

Saat ini, kapasitas produk petrokimia Indonesia hanya sebesar 3,9 juta ton, sedangkan Malaysia 4 juta ton. Kemudian Singapura 9,8 juta ton dan Thailand 12,1 juta ton per tahun.

“Sangat diperlukan teknologi tinggi, jadi sangat membutuhkan dukungan pemerintah mulai dari insentif fiskal, infrastruktur, dan sebagainya. Kalau di Thailand, listrik, jalan dan infrastruktur disiapkan pemerintahnya,” kata Suhat yang juga Vice President Corporate Relations PT Chandra Asri Petrochemical Tbk di sela-sela acara Konferensi Nasional Inaplas, Selasa (11/3/2014).

Selain itu, industri petrokimia dalam negeri juga masih dihadapkan oleh hambatan-hambatan yang cukup berat seperti harga bahan baku yang tinggi dan harus diimpor, belum ada integritas secara menyeluruh antara idnustri hulu, hilir, dan produk jadi serta biaya utilitas (listrik, air dan gas) yang tinggi.

”Seperti kenaikan listrik yang akan berlaku Mei ini, itu sangat memberatkan."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia
Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top