Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsumsi BBM Subsidi Berpotensi Melonjak Akibat Mobil Murah?

Konsumsi BBM subsidi berpotensi melonjak seiring dengan langkah pemerintah mengarahkan mobil murah ke luar Jabodetabek dengan alasan tidak ingin menambah kemacetan di Ibu Kota.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 November 2013  |  06:51 WIB
Konsumsi BBM Subsidi Berpotensi Melonjak Akibat Mobil Murah?

Bisnis.com, JAKARTA - Konsumsi BBM subsidi berpotensi melonjak seiring dengan langkah pemerintah mengarahkan mobil murah ke luar Jabodetabek dengan alasan tidak ingin menambah kemacetan di Ibu Kota.

Sekalipun pemerintah meminta agar program low cost green car (LCGC) itu menggunakan BBM nonsubsidi, minimnya stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di daerah yang menyediakan BBM nonsubsidi akan memicu mobil murah menggunakan BBM subsidi.

Apalagi, hingga kini pemerintah belum menerbitkan aturan pelaksana yang mengawasi dan menjamin agar LCGC tetap menggunakan BBM nonsubsidi. Akibatnya, impor bahan bakar minyak berpotensi melonjak yang bisa menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit).

Langkah mendorong mobil murah ke daerah ini disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa di hadapan 69 senator dalam sidang paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD), seperti dilaporkan harian Bisnis Indonesia, Rabu (20/11/2013).

Dia menyampaikan program mobil murah hanya bersifat nasional alias distribusi mobil itu tidak dimaksudkan untuk kota-kota besar, tetapi untuk kota-kota seluruh Nusantara yang masih memerlukan alat transportasi ini.

“Dari 508 kabupaten/kota di Tanah Air, diperkirakan hanya 50 kabupaten/kota yang mengalami kemacetan,” ujarnya.

Hatta melanjutkan pengurangan kemacetan di kota-kota besar dilakukan dengan mengatur populasi kendaraan bermotor di suatu daerah tertentu yang disesuaikan dengan perkembangan infrastruktur transportasi.

Chief Economist and Director for Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat sempat menaksir setiap pertambahan penjualan kendaraan bermotor setiap 1% berpotensi menambah defisit minyak 0,64%.

BPS mencatat defisit perdagangan migas Januari-September sudah US$9,74 miliar. Adapun penjualan kendaraan hingga Oktober, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tercatat 1,02 juta unit.

Khusus Oktober, penjualan mencapai 112.038 unit atau naik dari penjualan periode sama tahun lalu yang hanya 106.754 unit. Gaikindo juga mencatat, dari penjualan city car 16.557 unit pada Oktober, LCGC menyumbang 11.592 unit atau 70,01%.

Adapun Bank Indonesia menghitung defisit minyak, khusus pada kuartal III/2013, mencapai US$5,86 miliar yang turut berkontribusi terha dap defisit transaksi berjalan US$8,4 miliar setara 3,8% terhadap PDB.

“Keputusan pemerintah menyetujui peluncuran mobil murah dipastikan semakin menambah jumlah kendaraan sekaligus memperparah kemacetan,” kata Budi.

DEFISIT MINYAK

Dalam perhitungan Budi, bila tahun ini pertambahan jumlah kendaraan mencapai 10% dan harga ICP berkisar US$106 per barel, maka defisit neraca minyak akan Rp202 triliun atau bersesuaian dengan anggaran subsidi dalam APBN-P 2013 yang hampir Rp200 triliun.

Selengkapnya baca di harian Bisnis Indonesia edisi Rabu (20/11/2013) atau di http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?IdCateg=20131120141

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bbm subsidi hatta rajasa menkeu mobil murah chatib basri konsumsi bbm mobil lcgc

Sumber : Bisnis Indonesia (20/11/2013)

Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top