Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Apartemen di Jakarta Naik Paling Tinggi di Asia

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan harga residensial mewah atau apartemen di Jakarta lebih tinggi dibandingkan dengan harga di kota-kota besar lain di Asia.Head of Residential Project Marketing Jones Lang LaSalle Indonesia Luke Rowe mengungkapkan harga

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan harga residensial mewah atau apartemen di Jakarta lebih tinggi dibandingkan dengan harga di kota-kota besar lain di Asia.

Head of Residential Project Marketing Jones Lang LaSalle Indonesia Luke Rowe mengungkapkan harga properti mewah di Jakarta pada kuartal II/2013 naik 9% dibandingkan dengan kondisi pada kuartal sebelumnya.

"Jakarta terus bergerak seiring dengan munculnya proyek-proyek baru pada kuartal I/2013 dan mendapat respons yang baik dari masyarakat," katanya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu (21/8/2013).

Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan harga residensial mewah di Jakarta ini meningkat 34,2%.

Dia mengatakan, banyak pengembang lokal yang memperoleh penjualan yang lebih tinggi dari target sebelumnya. Sekitar 70% proyek yang baru diluncurkan tersebut pun telah terjual.

Menurut Rowe, pasokan residensial mewah di Jakarta yang terbatas juga membuat harga menjadi semakin tinggi. Hal ini dilihat dari pasokan apartemen yang mencapai 90.000 unit, masih kurang dibandingkan dengan permintaan, apalagi jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 20 juta jiwa. "Di sisa tahun ini, dipastikan pasar residensial mewah masih akan tetap tumbuh," katanya.

Dari hasil pantauan Jones Lang LaSalle, kota-kota besar di Asia yakni Hong Kong hanya tumbuh 0,3%, Beijing 6,7%, Shanghai 0,7%, Bangkok 0,5%, Manila 0,9%, Mumbai 0,5%. Sedangkan Kuala Lumpur tidak bergerak yakni 0,0% dan Singapura justru menurun 0,6%.

Jane Murray, Head of Reseach Asia Pacific Jones Lang LaSalle, menambahkan akibat adanya langkah pendinginan dan kebijakan dari pemerintahnya, Hong Kong, Singapura dan China pada akhir sisa tahun ini setidaknya 12 bulan ke depan pertumbuhannya akan diam di tempat atau stagnan.

"Ini dapat mempengaruhi sentimen investor di pasar-pasar dan menghambat aktivitas penjualan. Namun, pasar negara berkembang di Asia Tenggara harus terus mengalami pertumbuhan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Peni Widarti
Editor :
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper