Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CUKAI TEMBAKAU: Aturan Baru Dorong Divestasi Pabrik Rokok

Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 10 Juni 2013  |  22:31 WIB
BISNIS.COM, SURABAYA-Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur menilai penetapan golongan dan tarif cukai hasil tembakau akan mendorong perusahaan rokok melakukan divestasi atau melepas kepemilikan atas suatu pabrik rokok.
 
Wakil Ketua Kadin Jatim Deddy Suhajadi menguraikan bila ingin menghindari terkena cukai tinggi maka perusahaan rokok harus menjaga limit produksi. Dengan demikian langkah yang bisa ditempuh yakni divestasi.
 
"Bila tidak, perusahaan yang memiliki keterkaitan total produksinya dijumlah dan dikenakan cukai sesuai aturan," jelas Deddy yang juga Ketua Tim Penyelamatan Industri Hasil Tembakau, Senin (10/6/2013).
 
Industri rokok digolongkan berdasar jumlah produksi, golongan III kapasitas produksi maksimalnya 300 juta batang per tahun. Melebih kapasitas itu maka naik tingkat ke golongan II. Jumlah produksi ini berhubungan dengan besaran cukai yang haru dibayar.
 
Tarif cukai rokok di perusahaan yang memiliki keterkaitan diatur dalam PMK No. 78/PMK.011/2013 tentang Penetapan Golongan dan Tarif Cukai Hasil Tembakau Terhadap Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau yang Memiliki Hubungan Keterkaitan. 
 
Peraturan berlaku efektif per 10 Juni itu menguraikan hubungan keterkaitan terjadi bila perusahaan penyertaan modal langsung/tidak setidaknya 20%.
 
Masuk dalam kategori terkait bila perusahaan memiliki paling sedikit 10% dan pemegang saham utama dalam pabrik itu. Keterkaitan juga berlaku bila pengusaha menjadi kreditur terbesar di pabrik rokok.
 
Hubungan muncul bila pengusaha melakukan penjaminan terhadap peminjaman modal di pabrik lain. Kesamaan direksi atau komisaris juga menjadikan hubungan keterkaitan antarperusahaan.
 
Selain faktor permodalan, manajerial, hubungan darah dan pasokan bahan baku bisa berarti ada hubungan keterkaitan. "Agar hubungan keterkaitan tidak terjadi maka pilihannya divestasi," jelas Deddy.
 
Dia menguraikan praktik di lapangan perusahaan besar kerap memiliki perusahaan kecil guna menghasilkan rokok yang dijual murah. Potensi cukai itulah yang mendasari terbitnya PMK No.78/2013.
 
"Kalau niatnya agar perusahaan kecil tidak bertarung dengan yang besar baik. Tapi kalau kondisi ini menyebabkan banyak perusahaan rokok dibeli asing maka kontra produktif."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Rokok cukai hasil tembakau pmk 78/2013 kadin jatim deddy suhajadi
Editor :
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top