Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TRANSPORTASI: Belanja Kapal Maret 2005--Maret 2013 Capai US$18,02 miliar

BISNIS.COM, JAKARTA—Asosiasi perusahaan pelayaran Indonesia memproyeksikan niali investasi yang dikucurkan membeli untuk kapal selama Maret 2005—Maret 2013 mencapai US$18,02 miliar dan nilainya akan terus meningkat.
M. Tahir Saleh
M. Tahir Saleh - Bisnis.com 02 Mei 2013  |  19:50 WIB
TRANSPORTASI: Belanja Kapal Maret 2005--Maret 2013 Capai US$18,02 miliar
Bagikan

BISNIS.COM, JAKARTA—Asosiasi perusahaan pelayaran Indonesia memproyeksikan niali investasi yang dikucurkan membeli untuk kapal selama Maret 2005—Maret 2013 mencapai US$18,02 miliar dan nilainya akan terus meningkat.

Ketua Umum Indonesian Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan nilai investasi kapal itu akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan ruang muat kapal dan peremajaan armada.

Pihaknya mencatat, selama periode 8 tahun itu, jumlah kapal niaga nasional bertambah sebanyak 6.006 unit atau tumbuh 99,2% menjadi 12,047 unit. Bahkan dari sisi gross tonnage (GT), meningkat dari 5,67 juta GT menjadi 17,11 juta GT.

“Karena itu tak salah jika sekarang pelayaran kita menjadi bidikan investasi negara lain. Ke depan, industri ini telah dilihat sebagai tambang emas utama di Asia Tenggara atau The Next Maritime Eldorado of the East,” katanya dalam sambutan The Indonesia International Shipbuilding, Offshore, Marine, Machinery and Equipment Exhibition & Conference 2013, Kamis (2/5/2013).

 Sebagai perbandingan, Kementerian Perhubungan mencatat jumlah kapal sejak penerapan asas cabotage—angkutan domestik wajib kapal Indonesia dan awak lokal—sudah naik dari 6.041 unit pada 2005 menjadi 11.784 unit per Oktober 2012.

Carmelita mengatakan implementasi asas cabotage sejak terbitnya Inpres No.5/2005 dan UU No. 17/2008 tentang Pelayaran member dampak ekonomi dan investasi besar terhadap masyarakat.

Dia menyitir data Bank Dunia yang mengumumkan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini hingga  dua basis point menjadi 3,3% dari sebelumnya 3,5% karena berlarut-larutnya resesi zona Eropa.

Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar satu basis point menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,3%. Laporan itu, katanya, menggambarkan bahwa situasi perekonomian global tahun ini masih belum akan pulih.

“Krisis di zona Eropa dan Amerika Serikat yang merambat ke zona Asia telah berdampak terhadap sektor perekonomian Indonesia, tidak terkecuali industri pelayaran nasional, khususnya pada kegiatan angkutan ke luar negeri,” katanya.

Meski demikian, Carmelita menegaskan industri pelayaran yang bergerak pada angkutan dalam negeri patut bersyukur karena pangsa pasar pelayaran domestik masih cukup solid. Hal itu sejalan dengan kebijakan nasional asas cabotage, terjaganya pertumbuhan ekonomi domestik serta meningkatnya perdagangan antarpulau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Sumber : M. Tahir Saleh

Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top