Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

DAHLAN ISKAN: Pertamina Sanggup Kelola 100% Blok Mahakam

BISNIS.COM, JAKARTA- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mendukung PT Pertamina (Persero) untuk mengelola 100 % Blok Mahakam, Kalimantan Timur pada 2017.Dahlan meyakinkan bahwa Pertamina sanggup untuk mengelola blok yang masa kontraknya

BISNIS.COM, JAKARTA- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mendukung PT Pertamina (Persero) untuk mengelola 100 % Blok Mahakam, Kalimantan Timur pada 2017.

Dahlan meyakinkan bahwa Pertamina sanggup untuk mengelola blok yang masa kontraknya bersama PT Total E&P Indonesie akan habis pada 2017. Menurutnya, pekerjaan rumah yang harus dilakukan Pertamina adalah mencari pendanaan untuk berinvestasi di Blok Mahakam.

Saat ini, pihaknya belum bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik untuk membicarakan hal ini. “Selama ini ada kritik Pertamina tidak mampu, saya sudah tanya kepada Pertamina, dan Pertamina sanggup. Namun tetap keputusan bulat ada di tangan pemerintah (secara keseluruhan),” kata Dahlan dalam konferensi singkatnya di Kantor Pusat Pertamina, Rabu (3/4/2013).

Dahlan menegaskan pemerintah tidak akan memberikan bantuan dana kepada Pertamina untuk berinvestasi di Blok Mahakam. “Direksi Pertamina yang harus cari,” tegasnya. Dia menyerahkan seluruh keputusan pendanaan kepada direksi Pertamina, apakah itu melalui pinjaman, global bond, atau apapun.

Kesanggupan Pertamina bisa dilihat pada saat Pertamina mengambil alih pengelolaan Blok West Madura Offshore dari Kodeco. Ketika itu, produksi WMO masih berada di bawah 10.000 barel per hari. Namun, setelah diambil alih Pertamina, produksi terus naik.

“Sekarang sudah hampir 20.000 barel per hari, bahkan ditargetkan sampai 30.000 barel per hari.

Begitu juga dengan produksi Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang terus meningkat dan pernah menyentuh angka 40.000 barel per hari. Pada intinya, Dahlan menegaskan Pertamina akan mampu mengelola Blok Mahakam bila diberi kesempatan oleh pemerintah.

“Tapi tentu saya tidak dalam kapasitas ditanya apakah akan diberikan sepenuhnya ke Pertamina atau tidak tidak. Itu nanti Pak Jero Wacik yang mengumumkan karena ini memang domain beliau,” jelasnya.

Selain itu Dahlan juga meralat ucapannya mengenai laba yang bisa diperoleh Pertamina bila mengelola Blok Mahakam 100 %. Sebelumnya Dahlan mengatakan Pertamina bisa memperoleh laba hingga Rp171 triliun pada 2018 (laba keseluruhan kinerja) bila mengelola Blok Mahakam 100 %.

“Saya salah, Rp171 triliun itu laba akumulatif hanya dari Blok Mahakam dari tahun 2017-2033,” ralat Dahlan.

Saat ini, Pertamina diminta untuk meningkatkan kapasitasnya sehingga seluruh elemen menilai Pertamina memang mampu.

Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir yakin Pertamina memiliki dana yang cukup untuk berinvestasi di Blok Mahakam pada 2017. Namun, pihaknya enggan mengatakan dari mana saja pendanaan tersebut.

“Kalau lapangan produksi bukan jadi momok, karena di saat yang sama juga kan menghasilkan pendapatan. Dengan lapangan produksi, tidak ada kendala untuk masalah pendanaan,” ujarnya.

Ali merinci, dengan dikelolanya Blok Mahakam oleh Pertamina, diperkirakan Pertamina bisa memperoleh keuntungan hingga Rp120 triliun pada 2018. Keuntungan tersebut mencakup seluruh kinerja Pertamina dari hulu ke hilir, belum termasuk pendapatan dari Blok Mahakam

“Dari Blok Mahakam bagian kontraktor bisa Rp15 triliun per tahun,” jelasnya. Keuntungan sebesar Rp120 triliun tersebut salah satunya akan ditopang dari peningkatan bisnis petrokimia serta proyek akuisisi.

Ketika ditanya mengenai investasi yang akan dikeluarkan oleh Pertamina di Blok Mahakam, Ali enggan menjawabnya.

Sebagai gambaran, Head Departement of Media Realtions Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi mengatakan Total mengeluarkan dana sekitar US$2,3 miliar setiap tahunnya untuk menggarap Blok Mahakam.
 
Untuk ke depannya, pihaknya telah menyiapkan investasi US$ 17,3 miliar. Dana ini terdiri dari US$12,4 miliar untuk 2012-2017 dan US$ 4,9 miliar setelah 2017.

Menurut Kris, mengenai pendapatan dari Blok Mahakam, pada 2012 total pendapatan (gross revenue oil, condensate and gas) dari Blok Mahakam mencapai Rp106 triliun. Dari jumlah tersebut, penerimaan negara sekitar Rp63 triliun, cost recovery Rp21 triliun dan net contractor shares Rp22 triliun (Total dan Inpex).

Kemudian, pada 2013 (berdasarkan WP&B) diperkirakan total pendapatan sekitar Rp85 triliun. Dari jumlah itu negara diperkirakan akan menerima sekitar Rp45 triliun, cost recovery Rp25 triliun dan Net Contractor Shares Rp15 triliun (Total dan Inpex). Dengan estimasi harga minyak (Brent) US$100 barel dan kurs US$/Rp9500.

 Adapun jumlah yang telah diproduksi sampai hari ini di Blok Mahakam mencapai 15,4 Tcf dan 1.386 juta barel minyak dan kondensat, atau sekitar 75% dari cadangan.
 
Kontrak bagi hasil Mahakam ditandatangani tahun 1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun 2017.

Kegiatan eksplorasi yang dilakukan tahun 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi dalam jumlah yang cukup besar pada 1972. Cadangan P1+P2 awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi 21,2 TCF.
 
Dari penemuan itu, maka blok tersebut mulai diproduksikan yang dimulai dari Lapangan Bekapai pada 1974. Kini, setelah pengurasan hampir selama 40 tahun, maka sisa cadangan P1+P2 tinggal  185 juta barel dan gas 5,7 TCF. Blok Mahakam dioperatori Total EP Indonesie dengan kepemilikan saham 50 % dan Inpex 50 %.




Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Riendy Astria
Editor : Others
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper