Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

JPMorgan Wanti-Wanti Tarif Trump Bisa Bawa AS ke Jurang Resesi

Kepala Ekonom AS di JPMorgan Michael Feroli mengatakan kebijakan tarif impor akan membebani produk domestik bruto (PDB) riil AS tahun ini.
Gedung-gedung di Manhattan terlihat dari puncak observatorium One Vanderbilt di Manhattan, New York City, AS, 14 April 2023./Reuters
Gedung-gedung di Manhattan terlihat dari puncak observatorium One Vanderbilt di Manhattan, New York City, AS, 14 April 2023./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – JPMorgan Chase & Co. memperingatkan bahwa ekonomi Amerika Serikat diperkirakan akan masuk ke jurang resesi tahun ini akibat dampak dari kebijakan tarif impor yang diumumkan Presiden Donald Trump pekan ini.

Kepala Ekonom AS di JPMorgan Michael Feroli mengatakan kebijakan tarif impor akan membebani produk domestik bruto (PDB) riil AS tahun ini. Proyeksi pertumbuhan tahun penuh turun menjadi -0,3% dari 1,3%.

"Kontraksi ekonomi ini diperkirakan akan menekan perekrutan tenaga kerja dan akan mendorong tingkat pengangguran menjadi 5,3% secara bertahap," kata Feroli, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (5/4/2025).

Pengumuman tarif oleh Trump pada Rabu mengguncang pasar saham. Indeks S&P 500 terjun ke posisi terendah dalam 11 bulan dan menghapus kapitalisasi pasar sebesar US$5,4 triliun hanya dalam dua sesi perdagangan terakhir pekan ini.

JPMorgan bukan satu-satunya yang merevisi prediksi ekonomi AS. Barclays sebelumnya menyatakan bahwa proyeksi PDB AS 2025 kini konsisten dengan resesi. Citi memangkas perkiraannya menjadi hanya 0,1%, dan UBS menjadi 0,4%.

Kepala Ekonom UBS AS Jonathan Pingle memperkirakan impor AS dari seluruh dunia akan turun lebih dari 20% dalam beberapa kuartal ke depan, membawa proporsi impor terhadap PDB kembali ke level pra-1986.

"Kekuatan dari kebijakan perdagangan menyebabkan penyesuaian ekonomi makro yang substansial untuk ekonomi senilai US$30 triliun," jelasnya.

Bayangan Stagflasi

Feroli memperkirakan The Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada Juni, dan melanjutkan pemangkasan pada setiap pertemuan hingga Januari 2026, menurunkan suku bunga dari kisaran 4,25%-4,5% menjadi 2,75%-3%.

Pemangkasan ini, kata dia, kemungkinan besar tetap dilakukan meskipun inflasi inti diprediksi naik menjadi 4,4% di akhir tahun—dari 2,8% saat ini.

“Jika skenario stagflasi ini benar terjadi, The Fed akan menghadapi dilema. Namun kami percaya pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja akan menjadi faktor dominan, terlebih jika hal itu menekan pertumbuhan upah dan mengurangi risiko spiral harga-upah,” tambahnya.

Ketua The Fed Jerome Powell sendiri menegaskan pada Jumat bahwa pihaknya belum terburu-buru mengubah kebijakan suku bunga, meski laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan adanya perlambatan, dengan tingkat pengangguran naik tipis menjadi 4,2%.

Para pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak satu poin persentase penuh hingga akhir tahun, berdasarkan data kontrak berjangka.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper