Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengamat Peringatkan Prabowo Ketergantungan Impor Daging Sapi, Rasio Naik

Rasio impor daging sapi mengalami kenaikan dari 30% impor, menjadi 50%. Pengamat meminta pemerintah waspada
Pedagang melayani pembeli daging sapi di salah satu pasar tradisional di Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha
Pedagang melayani pembeli daging sapi di salah satu pasar tradisional di Jakarta. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat mewanti-wanti ketergantungan impor daging sapi yang bisa menjadi ancaman serius untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pengamat Peternakan dari Universitas Padjajaran Rochadi Tawaf mengatakan bahwa Indonesia akan terperangkap impor daging sapi jika rasio importasi tak dilakukan pembenahan.

Menurut Rochadi, perlu dilakukan pembagian rasio agar populasi dan produksi sapi lokal naik, sehingga importasi daging sapi bisa ditekan.

“Harus ada rasio, supaya populasi sapi lokalnya naik. Jadi ada rasio antara daging, jumlah sapi yang diimpor sapi hidup, dan jumlah sapi lokal yang sebagai produk domestik,” kata Rochadi kepada Bisnis, Rabu (26/2/2025).

Sayangnya, rasio tersebut tidak sejalan dengan kondisi yang terjadi saat ini. Padahal sebelumnya, ungkap Rochadi, produksi sapi dalam negeri di Indonesia mampu mencapai persentase sebesar 70%, sementara sisanya impor.

“Sekarang sudah hampir 50% impor dan 50% produksi di dalam negeri, karena produksi di dalam negeri sudah nggak ada. Ini kan bahayanya itu akhirnya nanti kita akan terperangkap pada kebutuhan impor,” ujarnya.

Adapun, dia menjelaskan bahwa sejatinya importasi sapi merupakan substitusi sapi lokal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. ”Kalau [sapi hidup] nggak didatangin impor, sapi lokal kita akan habis,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rochadi menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, paling tidak dibutuhkan 600.000 ekor dalam satu tahun. Namun kini, importasi sapi hidup hanya 200.000 ekor dan sisanya dipenuhi daging impor.

“Padahal, nilai tambah daging impor itu kecil dibanding dengan sapi hidup, kalau sapi kan ada nilai tambah di dalam negeri, ada tenaga kerja di dalam negeri sehingga sebetulnya nilai ekonominya jauh lebih baik kalau kita importasi sapi [hidup],” jelasnya.

Di sisi lain, Rochadi juga menyoroti inkonsistensi pemerintah dalam mengimpor sapi hidup, mulai dari harga hingga pembinaan peternak terhadap sapi impor. Padahal, dia mengungkap pemerintah harus menuju swasembada.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Australia menjadi satu-satunya negara pemasok sapi hidup impor untuk Indonesia. Pada Januari 2024, Indonesia menerima 1.853 ton impor sapi hidup dengan nilai US$4,17 juta atau Rp68,19 miliar (asumsi kurs Rp16.350 per dolar AS).

Sementara pada Januari 2025, impor sapi hidup dari Australia mencapai 3.802 ton dengan nilai US$10,62 juta atau sekitar Rp173,53 miliar. Ini artinya, volume importasi sapi hidup melonjak 105,14% secara tahunan (year-on-year/yoy). Bahkan, nilai pengadaan importasinya juga naik lebih dari dua kali lipat.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper