Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konsensus Ekonom Jelang RDG BI, Suku Bunga Acuan Tetap 6,25% atau Turun?

Berikut data konsensus ekonom jelang Rapat Dewan Gubernur BI. Suku bunga cuan ditahan di level 6,25%?
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni P. Joewono (kedua kiri) memberikan keterangan saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (21/2/2024). Bisnis/Arief Hermawan P	164.3
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni P. Joewono (kedua kiri) memberikan keterangan saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (21/2/2024). Bisnis/Arief Hermawan P 164.3

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diestimasikan akan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Rabu (22/5/2024). 

Keputusan tersebut diyakini setelah sebelumnya BI Rate naik 25 bps pada bulan lalu untuk menstabilkan rupiah yang melemah 3,9% sepanjang 2024 hingga April.  

Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg secara kompak meyakini BI akan menahan suku bunga acuan pada bulan ini. Dari 38 ekonom, seluruh memprediksi bank sentral akan menahan suku bunga acuan di level 6,25%. 

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) Ryan Kiryanto menuturkan BI akan mempertahankan suku bunga, sejalan dengan Lending Facility Rate dan Deposit Facility Rate.  

Meredanya tekanan eksternal terhadap rupiah dan terkendalinya ekspektasi inflasi ke depan tetap dalam koridor 1,5-3,5% menjadi dasar pertimbangan utama BI. 

“Selain isu The Fed yang belum akan menurunkan Fed rate tetap di 5,25%-5,50% dalam jangka pendek ini atau setidaknya hingga akhir tahun ini,” tuturnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (22/5/2024).  

Sementara Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede keputusan mempertahankan BI Rate atas pertimbangan risiko dari skenario kebijakan The Fed yang terus higher for longer.

Pejabat the Fed masih menunjukkan sinyal bahwa Fed tidak terburu-buru menurunkan suku bunga kebijakan FFR meskipun proses disinflasi di AS masih berlanjut.

Setelah kenaikan 25 bps pada bulan lalu, rupiah cenderung menguat sebesar 1,47% (mtd), imbal hasil obligasi acuan 10 tahun telah turun 32bps (mtd), dan telah terjadi arus modal masuk ke pasar portofolio sebesar US$441 juta (mtd) pada Mei 2024. 

Mengacu data inflasi pun terkendali dengan tren menurun, meski ada Hari Raya Idulfitri atau Lebaran. 

Josua meyakini saat ini dalam menentukan BI Rate, bank sentral akan sangat mengikuti perubahan suku bunga The Fed. Padahal sebelumnya, BI mengindikasikan bahwa keputusannya untuk menurunkan BI Rate tidak akan dipengaruhi oleh keputusan suku bunga acuan The Fed.

“Kami memperkirakan bahwa BI hanya akan menurunkan BI Rate setelah The Fed mulai menurunkan suku bunga kebijakannya,” tuturnya. 

Josua mengantisipasi bahwa The Fed hanya akan menurunkan Fed Funds Rate sebesar 25bps di Desember 2024, kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level saat ini di 6,25% hingga akhir 2024. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan penurunan suku bunga akan terbuka pada tahun 2025. 

Skenario Penurunan BI Rate 

Pada RDG sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo memiliki tiga skenario arah penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) atau Fed Fund Rate (FFR).   

Perry menjelaskan, dalam skenario pertamanya, terdapat potensi The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir tahun ini.  

“Dalam skenario kami, skenario baseline dengan probabilitas di atas 75%, Fed Fund Rate akan turun sekali di 25 bps di kuartal IV/2024, yang kemungkinan di Desember 2024,” ujarnya dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (24/4/2024).   

Dalam sekanrio kedua yang disebut risiko potensial, Perry melihat Fed Fund Rate tidak akan turun pada tahun ini dan tetap terjaga pada level 5,25% hingga 5,5%.  Menurutnya, sesuai Fed Fund Rate baru akan turun pada kuartal I/2025 atau kuartal II/2025 sebesar 50 bps. 

“Kalau probabilitas di bawah 50% kami sebut tail risk. Tail risk Fed Fund Rate akan tetap tinggi lebih lama pada 2024 dan baru akan turun 25 bps pada 2025,” lanjutnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper