Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konsensus: Neraca Perdagangan Indonesia Diramal Surplus 47 Bulan Beruntun per Maret 2024

Hasil proyeksi rata-rata ekonom dari kinerja perdagangan luar negeri Indonesia, yakni ekspor impor, akan melanjutkan tren surplus ke-47 kali pada Maret 2024.
Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia. Foto udara suasana di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Ilustrasi neraca perdagangan Indonesia. Foto udara suasana di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA –- Neraca perdagangan Indonesia diproyeksi rata-rata ekonom akan melanjutkan tren surplus ke-47 kali per Maret 2024. Neraca perdagangan secara resmi dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada Senin (22/4/2024).

Data konsensus ekonom Bloomberg, Minggu (21/4/2024), dari 19 ekonom proyeksi surplus neraca perdagangan berada di angka US$1,15 miliar. 

Proyeksi tertinggi berada di angka US$1,73 miliar dirilis oleh Aldian Taloputra yang merupakan ekonom Standard Chartered Bank. Sementara estimasi terendah dirilis oleh Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana dengan defisit US$410 juta. 

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro, termasuk dalam konsensus, memproyeksikan neraca perdagangan Maret 2024 masih akan terus surplus dengan angka US$1,57 miliar. 

Angkan ini meningkat dari US$0,87 miliar yang tercatat pada Februari 2024. Peningkatan ini sejalan dengan normalisasi kegiatan impor setelah periode Ramadan dan Idulfitri 2024.

Meski adanya peningkatan tersebut, Asmo melihat adanya potensi penurunan ekspor akibat masih lemahnya permintaan dari negara mitra dagang Indonesia. 

“Kami mengantisipasi berlanjutnya penurunan ekspor akibat masih lemahnya permintaan, terutama dari negara mitra dagang akibat perlambatan perdagangan global yang masih berlangsung,” ujarnya, dikutip Minggu (21/4/2024). 

Di sisi lain, impor diperkirakan akan kembali normal setelah periode impor yang tinggi dalam rangka persiapan Idulfiitri pada Februari lalu, termasuk impor minyak mentah serta barang nonmigas seperti barang konsumsi dan barang modal.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, termasuk dalam konsensus, meramalkan surplus neraca dagang Indonesia pada momen Ramadan dan menjelang Idulfitri tersebut berada di angka US$1,63 miliar. 

Estimasi tersebut tercatat lebih tinggi dari realisasi surplus neraca dagang Februari 2024 yang senilai US$0,87 miliar. 

Josua menjelaskan hal ini terjadi akibat kinerja ekspor yang mulai membaik dengan tumbuh 8,05% secara bulanan (month-to-month/mtm). Meski demikian, laju pertumbuhan tahunan dari kinerja ekspor diperkirakan mengalami kontraksi sebesar -10,91% (year-on-year/yoy).

Utamanya, peningkatan didorong oleh akselerasi ekonomi China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, setelah liburan panjang Tahun Baru Imlek pada Februari lalu. 

“Permintaan dari Tiongkok diperkirakan akan membaik, sebagaimana dibuktikan oleh peningkatan impor Tiongkok dari Indonesia sebesar 9,65% mtm di bulan Maret 2024,” jelasnya, dikutip Minggu (21/4/2024). 

Pada Februari 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$0,87 miliar terutama berasal dari sektor nonmigas US$2,63 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai US$1,76 miliar.

Adapun, BPS akan mengumumkan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia, yakni ekspor dan impor serta posisi surplus neraca perdagangan Maret 2024 pada Senin (22/4/2024) pukul 11.00 WIB.

Berikut proyeksi kinerja neraca dagang berdasarkan konsensus ekonom Bloomberg:

Economist Firm  Estimasi (US$/miliar)
Fikri C Permana Kb Valbury Sekuritas -0,41
David E Sumual  PT Bank Central Asia Tbk.  1,7
Lavanya Venkateswaran Oversea-Chinese Banking Corp Limited 1,1
PT Mega Capital Sekuritas 1,3
Jeemin Bang  Moodys Analytics Singapore Pte Ltd 1
Mika Martumpal PT Bank Cimb Niaga Tbk.  1,5
Miguel Chanco Pantheon Macroeconomics Ltd 0,95
Fakhrul Fulvian Trimegah Sekuritas 0,3
Josua Pardede PT Bank Permata Tbk.  1,63
PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk.  1,55
Irman Faiz PT Bank Danamon Indonesia Tbk.  0,68
Rully Arya Wisnubroto PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia 1,09
PT Bank Mandiri Persero Tbk. 1,57
Aldian Taloputra Standard Chartered Bank  1,73
Krystal Tan Australia & New Zealand Banking Grp.  1,6
Helmi Arman Citigroup Securities Indonesia 1,15
Euben Paracuelles Nomura Singapore Limited 1,3
Brian Tan Barclyas Bank PLC 1,01
Helmy Kristanto  PT Danareksa Securities 1,05


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper