Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Stok MinyaKita Seret, Minyak Goreng Ini Bisa Jadi Alternatif

Realisasi DMO minyak sawit berdampak pada penurunan pasokan minyak goreng curah dan MinyaKita di pasaran.
Produk minyak goreng curah kemasan besutan Kementerian Perdagangan, Minyakita - Dok. Kemendag.
Produk minyak goreng curah kemasan besutan Kementerian Perdagangan, Minyakita - Dok. Kemendag.

Bisnis.com, JAKARTA - Realisasi Domestic Market Obligation (DMO) minyak sawit berdampak pada penurunan pasokan minyak goreng curah dan MinyaKita di pasaran. Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebut minyak goreng second brand bisa jadi pilihan alternatif.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag, Isy Karim mengakui bahwa adanya kecenderungan realisasi DMO minyak goreng berkurang sejak awal tahun. Hal itu disebut berdampak terhadap pasokan MinyaKita dan minyak curah di pasaran.

Pada periode Maret 2024 ini, realisasi DMO minyak goreng bahkan hanya mencapai 28,6% dari target bulanan 300.000 ton. Adapun menurutnya, selama ini penyaluran DMO oleh produsen masih didominasi berupa minyak goreng curah sebesar 60%, dan 40% MinyaKita.

"Dengan adanya penurunan DMO ini memang terlihat ada sedikit mulai berkurangnya pasokan ke pasar terkait dengan minyak goreng DMO [curah dan MinyaKita]," ujar Isy dalam Dialog Publik bersama Satgas Pangan Polri, Rabu (27/3/2024).

Namun, menurutnya pasokan DMO yang berkurang itu tidak mempengaruhi stok minyak goreng kemasan premium di ritel-ritel. Masyarakat bahkan masih bisa membeli minyak goreng second brand dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng kemasan premium.

Dia menjelaskan, bahwa para produsen minyak goreng premium saat ini juga mulai memproduksi minyak goreng second brand mereka sebagai alternatif dari minyak curah maupun MinyaKita.

"Kalau Tropical produksi dari Bina Karya Prima, di bawahnya ada second brand mereka Fitri. Harganya di antara MinyaKita dan minyak premium. Masyarakat ada pilihan itu apabila di pasar ada kekurangan [MinyaKita]," jelasnya.

Isy pun mengaku tidak khawatir terkait dengan realisasi DMO yang melandai sebagai dampak dari terpuruknya permintaan ekspor. Sebab, target 300.000 ton per bulan itu, kata dia, masih jauh di atas kebutuhan bulanan sekitar 239.000 ton. Dengan begitu, dia memastikan bahwa stok minyak goreng untuk untuk menghadapi permintaan saat Ramadan dan Lebaran dalam kondisi memadai.

"Jadi ketersediaan minyak goreng saat ini dalam jumlah yang sangat mencukupi," tuturnya.

Sebelumnya, Kemendag melaporkan pada Januari 2024 realisasi DMO minyak goreng hanya 212.116 ton atau 70,7% dari target bulanan 300.000 ton. Selanjutnya pada Februari 2024 realisasi DMO tercatat hanya 43,8% atau 131.486 ton. Bahkan, untuk periode Maret 2024, realisasi DMO hingga saat ini baru mencapai 28,6% atau hanya sekitar 85.890 ton.

Permintaan global yang lesu, telah membuat para produsen menahan realisasi DMO minyak goreng. Adapun salah satu faktor dominan yang menyebabkan ekspor melemah yakni harga minyak nabati lainnya yang lebih kompetitif dibandingkan minyak sawit.

Kemendag mencatat, harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) di bursa Rotterdam pada Maret 2024 sebesar US$1.115 per ton telah naik 17% dari harga Januari 2024. Sementara harga soybean atau minyak kedelai pada Maret 2024 berada di kisaran US$1.060 per ton atau naik 1,4% dari Januari 2024. Selain itu, harga rapeseed atau kanola pada Maret 2024 tercatat US$1.009 per ton atau naik 8,5% dari harga Januari 2024.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Rachmawati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper